Kamis, 17 Juni 2010

Hati yang Terluka

Suatu hari, seorang ayah yang sangat bijaksana ditegur oleh tetangganya karna kelakuan anaknya yang selalu membuat kerusakan, keributan,dsb. Betapa malu ayah bijaksana atas anaknya tersebut.

***
Ayahanda: Nak..mengapa dirimu selalu membuat onar, taukah kau perbuatanmu itu membuat ayah malu, dan lebih lagi, perbuatanmu itu justru membuatmu dibenci oleh warga
Anak: aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan ayah. Terserah apa kata orang, au tak peduli
Ayahanda: berulang kali kunasehati engkau tapi engkau tetap saja menghiraukannya. Aku akan menguhukummu sekarang.
Anak: Kenapa aku harus dihukum?
Ayahanda: Agar kau mendapat pelajaran berharga atasnya. Mulai sekarang, setiap kali engkau melakukan kesalahan atau perbuatan aniaya pada orang lain, tancapkanlah sebuah paku pada pagar depan rumah itu. Satu paku untuk setiap perbuatanmu itu. Mengerti nak?
Anak: Oh hanya begitu rupanya..baiklah ayah..

***
Anak: Duh..kenapa aku harus menancapkan paku begini setelah aku melakukan kesalahan, padahal tidak gampang menancapkan paku ini. Terkadang tanganku ikut terpalu gara-gara tidak pas memalunya. Wah ayah kejam padaku. Untuk apa pula pagar ini dipalu, bukankah malah jadi rusak ni pagar, haha ah sudahlah, aku akan terus melakukan kesalahan saja supaya pagar ini lekas penuh dengan paku yang aku tancapkan dan tugasku pun selesai. Ternyata ayah mendukungku berbuat aniaya pada warga yang tidak kusukai itu.

***
Anak: Ayah..lapooorr...aku sudah selesai mengerjakan perintahmu kemarin. Selama seminggu ini aku sudah berhasil memenuhi pagar itu dengan paku. Ternyata mudah-mudah susah mengerjakan tugasmu itu ayah. Terkadang aku terkena paluku sendiri saat menancapkannya. Tapi tak apa. Hebat kan aku ayah, mudah sekali memenuhi pagar itu.
Ayah: Masyaalloh nak..banyak sekali engkau berbuat aniaya pada oranglain. Tidakkah ada pelajaran yang engkau terima?
Anak: Aku dapat perlajaran ayah.
Ayah: Apa anakku?
Anak: Aku harus lebih hati-hati ketika memaku, hahaha
Ayah: Ternyata engkau belum mengerti anakku. Sekarang aku beri engkau perintah kembali. Mulai hari ini, perbuat baiklah kepada oranglain. Setiap kali engkau melakukan kebaikan maka jabutlah satu paku dari pagar yang sudah penuh dengan pakumu itu. Mengerti nak?
Anak: Aku tidak mengerti, mengapa aku harus melakukan itu?
Ayah: Nanti engkau juga akan mengerti mengapa ayah menyuruhmu seperti ini.

***
Anak: Satu kebaikan satu paku..sampai kapan ini bisa kujabut semua, sedang aku sangat jarang melakukan kebaikan pada oranglain. Tapi tak apalah, kalau aku tidak melakukan kejahatan tiap hari kan aku sama saja aku sudah melakukan kebaikan, haha. Eh, tu ada nenek tua. Aku akan bantu dia membawa keranjangnya.
Nenek Tua: Jangan ganggu aku nak, kamu kemarin merusak daganganku, sekarang apa lagi yang akan kau perbuat padaku?
Anak: Aku hanya mau membantumu nek. Ini tugas dari ayahku.
Nenek Tua: Baiklah. Tapi engkau jangan sentuh daganganku. Lebih baik kau sapu saja halamanku itu.
Anak: Ternyata berbuat baik itu tidak gampang ya. Aku sering ditolak. Dari anak kecil sampe nenek tua peyot ini tidak mau aku bantu. Padahal kemarin aku sudah meminta maaf pada mereka semua di depan ayahku. Tau gini kemarin aku tidak usah minta maaf saja, bikin malu derajadku saja.

***
Anak: Ayah..selama berbulan-bulan ini aku sudah melakukan perintahmu. Lelah sekali aku melakukan kebaikan hanya untuk mencabut setiap paku pada pagar itu. Tapi akhirnya hampir 1 tahun ini aku bisa mencabut semua paku itu. Sekarang pagar itu sudah tidak ada pakunya ayah. Selesai kan tugasku?
Ayah: Subhanalloh...engkau melakukan kejahatan hanya dalam 1 minggu pagar itu sudah penuh paku, namun engkau butuh 1 tahun untuk mencabut semua paku pada pagar itu. Tak apa. Tugasmu belum selesai nak. Tugasmu kali ini adalah memandangi pagar mu itu. Apa yang engkau lihat?
Anak: Tidak ada apa-apa ayah. Hanya pagar itu kini rusak. Berlubang karna bekas paku.
Ayah: Taukah engkau anakku. Pagar itu cerminan hati yang engkau lukai. Ketika engkau berbuat aniaya pada oranglain, maka hatinya akan terluka seperti tertancap paku tajam itu. Namun ketika engkau meminta maaf padanya dan melakukan kebaikan padanya, paku di hatinya atau luka dihatinya akan hilang. Namun, sadarkah engkah bahwa paku yang telah tertancap itu tetap saja meninggalkan bekas lubang pada pagar, itu artinya, ketika engaku berbuat aniaya kemudian engkau meminta maaf padanya dan ia pun memaafkannya, tetap saja di hatinya masih ada luka akibat perbuatanmu. Maka janganlah engkau berbuat aniaya pada oranglain. Karena meminta maaf pun tidak akan mengobati bekas luka yang ada di hatinya. Itu untuk kesalahan yang engkau sadari. Bagaimana luka hati oranglain akibat perbuatan atau kesalahan yang tidak engkau sadari?Ayah hanya mampu mendoakanmu agar Alloh senantiasa memaafkanmu. Amin.
Anak: Ya alloh, ayah, beta kejinya diriku ini. Aku baru menyadari bahwa aku telah melakukan kesalahan yang sedemikian banyaknya. Aku mau bertobat. Mulai sekarang aku akan berbuat baik pada oranglain. Terimakasih ayahanda atas bimbingannya.

Tidak ada komentar: