- Mencari ilmu wajib hukumnya dilakukan sepanjang hayat. Tidak peduli sudah bergelar profesor sekalipun, berparas cantik/ganteng sekalipun, telah menjadi raja atas kaumnya sekalipun, kaya raya sekalipun, kuat dan berorot besi sekalipun, dsb tak pantaslah berhenti untuk mencari ilmu. Ilmu dunia dan ilmu akhirat sangat luas dan mendalam bagi yang mau berusaha menggapainya. Tak akan pernah habis bahan ilmu yang bisa dipelajari. Hanya mereka lah yang berhenti untuk mencari ilmu yang akan menuai kesia-siaan. Ikhlas dan berpikir kritis merupakan sebagian cara yang dapat dilakukan untuk terus mengembangkan ilmu.
Minggu, 25 Desember 2011
Comment pada: Elegi Perlombaan Menjunjung Langit
Comment pada: Elegi Menggapai Cemani
-
Keikhlasan hati, keikhlasan pikir, keikhlasan hidup, dan sebagainya
menjadikan kehidupan dan proses hidup yang dijalani menjadi lebih
seimbang. Aapapun yang kita lakukan akan lebih intensif dan ekstensif
ketika kita berusaha ikhlas. Kita tidak akan mampu mendefinisikan ikhlas
yang ada dalam diri kita masing-masing. Hal tersebut karena pada
dasarnya yang kita lakukan hanyalah menggapai ikhlas. Hanya Alloh yang
mengetahui keikhlasan hambanya yang sesungguhnya.
- December 26, 2011 1:07 PM
Comment pada: Elegi Tasyakuran Spiritual Ke Satu (Proyek Syurga)
-
Tidak adalah lagi yang mengingkari keutamaan dari sholat dan peringatan agar tidak meninggalkannya, Alloh SWT berfirman:
1. “Sungguh bahagialah orang-orang mu’min yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Al-Mu’minun : 1-2)
2. “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya, mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Mu’minun : 9-11)
3. “Dan kerjakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut : 45).
4. “Lalu datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam ; 59)
Dan dari Rasululloh SAW bersabda “Tonggak pemisah antara seseorang muslim dengan kafir adalah shalat.” (Riwayat Muslim)
- December 26, 2011 12:54 PM
Comment pada: Elegi Tasyakuran Spiritual Ke Dua (Proyek Syurga)
-
Proyek menuju syurga meliputi ibadah secara intensif dan ekstensif.
Tidak ada seorang hamba pun yang tidak berharap masuk syurga. Namun,
pada akhirnya kita dapat menikmati syurga atau tidak tergantung pada
amal perbuatan yang telah kita lakukan. Semoga kita semua dapat terus
berusaha untuk mengamalkan semua yang diperintahkan dan menjauhi
larangan-laranganNya.
- December 26, 2011 12:44 PM
ANTARA SIFAT INDIVIDUALISTIS DAN SIFAT KOOPERATIF DALAM KHASANAH PENGEMBANGAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI)
Oleh:
Nurina Happy
NIM. 11709251047
Abstrak
Pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) berkaitan dengan perspektif yang menekankan kinerja berkualitas, kapasitas inovatif, otonomi, dll. Pembelajaran di kelas perlu didesain agar dapat mengakomodasi pengembangan siswa sesuai yang diharapkan dari adanya pengembangan SBI. Terdapat tiga cara dasar siswa untuk interaksi, yaitu: kompetitif, individualistis, dan kooperatif. Struktur pembelajaran kooperatif adalah stuktur yang diharapkan dapat dikembangkan di sekolah-sekolah bertaraf internasional karena keunggulan-keunggulan yang dimilikinya.
Kata kunci: SBI, struktur pembelajaran
I. Pendahuluan
Pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) berhubungan erat dengan perspektif global untuk membangun sekolah-sekolah berkinerja tinggi. Perspektif ini menekankan perlunya transformasi sekolah nasional menuju SBI dengan karakteristik otonomi yang lebih luas, kapasitas inovatif, kinerja berkualitas, dan orientasi nilai (Dharma: 2007). Bagaimanakah dengan siswa-siswa dari sekolah bertaraf internasional tersebut? Pembelajaran seperti apa yang mampu mengakomodasi tuntutan tersebut?
Penyelenggaraan SBI didasari filosofi eksistensialisme dan esensialisme (fungsionalisme). Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, pro-perubahan, kreatif, inovatif, dan eksperimentif), menumbuhkan dan mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik (Haryana, 2007).
Filosofi eksistensialisme berpandangan bahwa dalam proses belajar mengajar, peserta didik harus diberi perlakuan secara maksimal untuk mengaktualkan, mengeksiskan, menyalurkan semua potensinya, baik potensi (kompetensi) intelektual (IQ), emosional (EQ), dan Spiritual (SQ). Filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi dan relevan dengan kebutuhan, baik kebutuhan individu, keluarga, maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub-sub sektornya, baik lokal, nasional, maupun internasional. Terkait dengan tuntutan globalisasi, pendidikan harus menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang mampu bersaing secara internasional. Dalam mengaktualkan kedua filosofi tersebut, empat pilar pendidikan, yaitu: learning to know, learning to do, learning to live together, and learning to be merupakan patokan berharga bagi penyelarasan praktek-praktek penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, mulai dari kurikulum, guru, proses belajar mengajar, sarana dan prasarana, hingga sampai penilainya (Ibid., hal. 37-38).
II. Pembahasan
Ada tiga cara dasar bagaimana siswa dapat berinteraksi satu sama lain, yaitu kompetitif, individualistis, dan kooperatif. Siswa dapat berkompetisi untuk melihat siapa yang terbaik, mereka dapat bekerja individualistis untuk mencapai tujuan tanpa memberi perhatian kepada siswa lain, atau mereka dapat bekerja sama dan saling memberi perhatian.
Keadaan motivasi belajar terkait erat dengan struktur pembelajaran yang digunakan guru di kelas. Struktur pembelajaran yang dikenal adalah struktur kompetitif, struktur individual, dan struktur kooperatif (Ames, 1984). Guru harus dapat mengambil bagian-bagian yang baik dari setiap struktur pembelajaran guna meningkatkan motivasi belajar siswa.
Ketiga struktur pembelajaran di atas secara singkat dijelaskan oleh Mudjiman (2005) sebagai berikut:
1. Struktur kompetitif
Struktur pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan formal-tradisional adalah struktur kompetitif. Sistem penilaian yang digunakan dalam struktur ini mendorong siswa untuk berkompetisi dengan kawan-kawannya. Kemampuan mereka diukur dengan nilai dan rank. Orientasi siswa adalah “menang atau kalah”. Belajar yang berhasil adalah kalau dapat mengalahkan kawannya sehingga terjadi persaingan dengan segala akibat baik dan buruknya.
Dalam struktur pembelajaran kompetitif, motivasi belajar bersifat egoistic, karena kompetisi dalam konteks sistem tradisional menumbuhkan sikap self defense. Namun demikian struktur pembelajaran kompetutif motivasi belajar juga bersifat social comparative. Tujuan belajar tidak semata-mata untuk menguasai sesuatu kompetensi melainkan untuk menunjukkan kepada siswa lain bahwa ia lebih baik. Ini merupakan salah satu ciri motivasi instrinsik.
Selama pembelajaran yang berstruktur kompetitif, siswa bergantung secara negatif kepada yang lain. Ketergantungan negatif terjadi ketika keberhasilan seorang siswa atau kelompok siswa terkait erat dengan ketidakberhasilan siswa atau sekelompok siswa lain. Seorang siwa dapat melakukan yang terbaik ketika siswa yang lain tidak bisa menjadi yang terbaik.
Beberapa hal positif biasanya dipercayai guru dalam penggunaan tujuan tersebut. Asumsi utamanya menunjuk pada kepercayaan bahwa makhluk hidup termasuk manusia memang memiliki kecenderungan bawaan untuk berkompetisi. Dan karenanya, harus belajar berkompetisi agar bisa sukses dalam dunia yang semakin kompetitif ini. Beberapa ahli umumnya menghubungkan kompetisi dengan hasil-hasil seperti berikut:
a. Pengembangan karakter,
b. Peningkatan self-esteem dan self-confidence,
c. Motivasi untuk sukses,
d. Pemantapan keunggulan sebagai tujuan,
e. Mempertahankan minat keikutsertaan,
f. Rasa keberhasilan pribadi setelah mengalahkan orang lain.
Cara berpikir alternatif tentang kompetisi dan pengaruhnya pada pembelajaran timbul ketika asumsi dan hasil yang berbeda mulai diperhatikan oleh kita. Cukup menarik untuk menemukan bahwa kebanyakan interaksi harian dalam hidup lebih bersifat kooperatif, tidak kompetitif. Buktinya kita lebih sering bergantung pada peranan orang di luar diri kita.
Di samping itu, kompetisi dengan sifat sangat bergantungnya pada standar (misalnya peraturan atau peralatan), justru menghasilkan situasi yang kurang diharapkan pada banyak siswa, sebab mereka tidaklah bersifat standar. Tetapi, mereka lebih bersifat heterogen dalam berbagai hal: kemampuan, minat, pengalaman, dan kematangan. Dengan kata lain, perbedaan individual siswa tidak sejalan dengan persyaratan yang dibutuhkan untuk kompetisi.
Akibatnya, kompetisi dapat menjadi sebuah pengalaman yang menghambat pembelajaran bagi banyak siswa. Apalagi, karena tingginya tingkat kegagalan yang ditemui dalam kompetisi, hanya mereka yang mempunyai kesempatan untuk berhasil sajalah yang termotivasi. Karenanya kompetisi hanya tepat bagi sekelompok siswa terpilih dalam satu kelas yang menunjukkan tingkat keterampilan dan kemampuan yang sama serta memilih untuk membandingkan penampilannya dengan orang lain. Beberapa ahli justru menunjukkan bahwa aktivitas kompetitif membatasi kesempatan belajar siswa.
Seperti juga dilansir oleh beberapa pengamatan, keikutsertaan dalam aktivitas kompetisi tradisional tidak memberikan kesempatan pada semua siswa untuk berlatih, menguasai, dan memperhalus keterampilan yang diperlukan dalam partisipasi mereka. Menggunakan aktivitas kompetitif di kelas dapat menjadi penghalang pada pembelajaran siswa.
2. Struktur individual
Pembelajaran dengan struktur individual banyak dijalankan dalam sistem pendidikan nonformal atau dalam pendidikan formal-tradisional tetapi ada penugasan-penugasan individual sesuai minat masing-masing. Dalam struktur pembelajaran individual, siswa berorientasi kepada pencapaian kompetensi. Bila masih terjadi kompetensi, yang terjadi adalah kompetisi dengan diri sendiri, bukan dengan kawan-kawannya, suasanya bebas dari rasa tertekan. Umunya siswa percaya bahwa kerasnya usaha-lah yang menentukan keberhasilan belajar, bukan semata-mata kemampuan. Dalam struktur pembalajaran ini motivasi belajar siswa beroientasi ke penguasaan sesuatu kompetensi. Sifat motivasinya instrinsik.
Pada saat pembelajaran individual, siswa biasanya tidak saling berhubungan dan tidak saling menggantungkan diri dengan siswa lain. Ketidakbergantungan tersebut didefinisikan sebagai tidak adanya hubungan kerja antara individu selama berusaha mencapai tujuan pembelajarannya. Selama pembelajaran individual, pencapaian tujuan dari seorang siswa tidak mempengaruhi pencapaian tujuan dari siswa yang lain. Demikian juga sebaliknya, tidak adanya usaha pencapaian tujuan dari seorang siswa tidak juga mempengaruhi ada atau tidak adanya usaha dari siswa lain.
Keyakinan bahwa usaha dan produktivitas hasil dari pembelajaran individual merupakan hal yang baik sudah diterima secara umum. Hasil-hasil seperti di bawah ini umumnya diyakini sebagai kelebihan dari pembelajaran individual:
a. Pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa,
b. Memerlukan keterlibatan dari guru yang minimal,
c. Pembelajaran individual meningkatkan pencapaian tujuan,
d. Semua siswa mengalami keberhasilan,
e. Pembelajaran individual menghilangkan persoalan sosial,
f. Identitas dan karakter pribadi berkembang melalui kerja mandiri,
g. Pembelajaran individual meningkatkan disiplin pribadi,
h. Pembelajaran individual menghilangkan masalah kedisiplinan kelompok.
Namun demikian, banyak juga para ahli yang meragukan bahwa pembelajaran individual benar-benar efektif mengembangkan sifat-sifat di atas. Dari pengamatan, lebih banyak hal kontradiktif dari hasil di atas yang dapat ditemukan.
Pembelajaran individual, meskipun dipandang tepat untuk situasi tertentu, namun biasanya tidak berhasil mencapai hasil-hasil di atas bagi umumnya siswa. Pembelajaran individual tidak mendukung interaksi interpersonal yang positif di antara siswa karena siswa tidak diharuskan untuk berinteraksi. Diragukan juga bahwa pembelajaran individual dapat mengeliminir masalah sosial ketika siswa dipisahkan dari kegiatan temannya, karena saling ejek, pelabelan stereotipe, dan kecurigaan antar siswa tetap dapat berkembang.
3. Struktur kooperatif
Smith dan MacGregor (1992) mendefinisikan cooperative learning sebagai “the most carefully structured end of the collaborative learning contiunumm”. Johnson dan Holubec (1994) mendefinisikan cooperative learning sebagai “the instructional use of smaal groups so that students work together to maximize their own and each other’s learning” (Phipps et.al., 2001).
Struktur pembelajaran ini dapat dilaksanakan di kelas-kelas tradisional dalam bentuk kerja kelompok, atau dikelas-kelas pendidikan non-formal. Sikap kompetitif masih ada pada setiap kelompok, tetapi orientasi belajar utamanya adalah pencapaian suatu kompetensi atau pemecahan masalah.
Berbagai riset tentang cooperative learning menunjukkan hasil yang konsisten bahwa cooperative learning akan meningkatkan prestasi, hubungan interpersonal yang lebih positif dan self-esteem yang lebih tinggi dibandingkan dengan upaya kompetitif atau individualistis (Phipps et.al., 2001). Phipps et.al. mencatat keberhasilan metode ini antara lain dari hasil riset Felder dan Brent (1996) yang menyatakan bahwa pendekatan ini meningkatkan motivasi untuk belajar, memori pengetahuan, kedalaman pemahaman, dan apresiasi subyek yang diajar. Riset juga menunjukkan bahwa praktik cooperative learning mengarahkan siswa pada pencapaian prestasi yang lebih tinggi, lebih efisien, dan efektifnya proses dan pertukaran informasi, meningkatkan produktivitas, hubungan yang positif di antara mahasiswa, dan membentuk saling percaya antarteman, dibandingkan dengan pengalaman pembelajaran kompetitif dan/atau individualistis (Potthast, 1999).
Upaya kooperatif diharapkan menjadi lebih produktif dibanding upaya kompetitif ataupun individualistis, bila upaya kooperatif tersebut berada di dalam kondisi tertentu. Kondisi ini kemudian merupakan elemen dasar terbentuknya cooperative learning. Kelima elemen dasar cooperative learning mencakup perlunya interdependensi positif, adanya interaksi tatap muka (face-to-face interaction), dimilikinya individual accountability, digunakannya collaborative skills, dan adanya group processing. Kempat hal tersebut diuraiakan sebagai berikut:
a. Pembentukan regu
Untuk menambah manfaat dari pembelajaran kooperatif, tugas pembentukan regu harus dilakukan secara hati-hati. Kelompok atau regu bersifat heterogen baik dalam hal jenis kelamin, ras, status ekonomi, dan kemampuan. Peningkatan dalam keterampilan berpikir, frekuensi dalam memberi dan menerima bantuan, serta jarak yang lebih lebar dalam hal sudut pandang terjadi jika kelompok yang dibentuk bersifat campuran.
Ketika memulai menggunakan pembelajaran kooperatif, mulailah dengan regu berpasangan. Pasangan memungkinkan partisipasi maksimum, komunikasi yang meningkat, dan memberi kesempatan untuk melatih keterampilan kolaboratif yang diperlukan. Pengelompokan pasangan secara mudah dirubah menjadi kelompok lebih besar, empat atau enam orang, sehingga meminimalkan pengaturan waktu. Siswa dapat ditugaskan pada kelompok kooperatif oleh guru atau kelompok dapat dikelompokkan secara acak. Kelompok yang dipilih guru biasanya menghasilkan pengelompokan yang efektif dan memerlukan sedikit waktu untuk mengaturnya. Sedangkan metode untuk mengelompokkan siswa secara acak adalah dengan meminta siswa untuk berkelompok berdasarkan ketentuan yang berubah-ubah dari guru. Misalnya, berkelompoklah dengan teman yang belum pernah jadi kelompok, dsb.
b. Saling ketergantungan positif
Inti dari pembelajaran kooperatif adalah saling ketergantungan positif. Hal ini terjadi ketika aktivitas pembelajaran mengharuskan pencapaian tujuan dari seorang siswa dihubungkan dengan pencapaian tujuan dari siswa lain. Pencapaian tujuan dalam pembelajaran kooperatif bersifat inklusif yang saling menguntungkan, yaitu usaha bersama.
Oleh karena itu guru dapat merancang aktivitas yang harus dilaksanakan bersama, baik bersamaan dalam hal waktu maupun bergantian, dan hasilnya-pun dinilai dari hasil kelompok. Saling ketergantungan positif berlangsung melalui penstrukturan tugas dan penghargaannya. Struktur tugas menentukan bagaimana siswa bekerja bersama selama pembelajaran kooperatif. Tugas-tugas dapat dibangun dalam beberapa cara untuk menghasilkan saling ketergantungan positif, sebagai berikut:
1) Kelompok kecil menghasilkan produk tunggal.
Contoh: kelas dibagi ke dalam beberapa kelompok yang beranggotakan empat orang. Setiap grup menciptakan satu kreasi yang didasarkan pada satu tema, kemudian berbagi andil tema mereka kepada kelompok lain.
2) Tugas dibagi dalam regu belajar siswa.
Contoh: dalam kelompok yang beranggotakan empat siswa, setiap siswa mendapat tugas tertentu.
3) Setiap siswa melakukan tugas tertentu sebelum kelompok itu melakukan tugas berikut.
4) Siswa berkolaborasi mencapai tujuan regu.
Saling ketergantungan positif pada dasarnya mencyaratkan empat kondisi seperti berikut:
1) Interaksi verbal positif berhadapan muka (face to face)
2) Interaksi fisik positif jika dipandang tepat
3) Sumbangan maksimum dari anggota regu
4) Keberhasilan dari masing-masing anggota regu berhubungan dengan keberhasilan anggota regu yang lain
Pilihlah kegiatan yang memungkinkan siswa bekerja bersama saling berdekatan, saling memberikan dukungan, serta memungkinkan terjadinya keikutsertaan penuh secara aktif melakukan tugas kelompok. Seorang siswa tidak dapat berhasil sendirian; saling ketergantungan harus cukup kuat.
c. Akuntabilitas perorangan
Akuntabilitas atau tanggung jawab merupakan faktor penting dalam situasi pembelajaran dan pengajaran. Dalam pembelajaran kooperatif hal itu lebih esensial karena pembelajaran siswa menjadi hasil yang paling iharapkan dari keikutsertaannya dalam pembelajaran kooperatif. Di bawah ini adalah tiga cara atau strategi yang dapat digunakan untuk memegang akuntabilitas individual siswa baik dalam proses pembelajaran maupun dalam hal membantu orang lain.
1) Guru bertanya secara acak meminta penjelasan siswa.
Contoh: ketika sekelompok siswa sedang terlibat dalam perancangan suatu tugas, guru dapat menanyakan pada satu orang siswa tentang mengapa mereka memiliki alat/metode tertentu serta keterampilan/penyelesaian apa yang akan dilakukan dengan alat/metode tersebut. Bahkan guru pun dapat meminta seorang siswa menunjukkan atau mendemonstrasikan keterampilan/penyelesaian yang akan dilakukan.
2) Siswa berbagi gagasan dan strategi pada kelompok lain.
Contoh: setelah seluruh kelas dibagi dan masing-masing kelompok melakukan tugas yang diminta (tentu setiap regu punya tugas yang berbeda), setiap regu diwajibkan untuk mengajarkan cara melakukan tugas tersebut pada regu lainnya. Setiap siswa dapat bertanggung jawab untuk mengajarkan komponen khusus dari tugas yang dimaksud.
3) Guru mengatur kegiatan untuk memastikan bahwa semua siswa dibutuhkan.
Ini berkaitan dengan bagaimana guru mengatur tugas dan menyampaikannya pada siswa. Guru harus memastikan bahwa semua siswa terlibat dalam kegiatan, jangan sampai ada saat menunggu yang terlalu lama sampai seorang siswa melakukan tugasnya. Hal inipun tentu berhubungan juga dengan alat yang bisa digunakan, jangan sampai satu regu atau beberapa orang siswa menunggu giliran karena jumlah alatnya tidak mencukupi.
Jika guru berfikir secara hati-hati tentang pembentukan regu, merencanakan saling ketergantungan positif, dan memastikan bahwa semua siswa terkontrol tanggung jawabnya, maka pembelajaran kooperatif akan berlangsung efektif.
d. Keterampilan kolaboratif.
Keterampilan berkolaborasi yang diperlukan dalam pembelajaran kooperatif meliputi:
1) Mendengarkan pendapat orang lain
2) Memecahkan konflik
3) Mendukung dan mendorong orang lain
4) Menunggu dan melaksanakan giliran
5) Mengekspresikan kegembiraan atas keberhasilan orang lain
6) Menunjukkan kemampuan untuk mengkritisi gagasan bukan orang yang melontarkannya.
Pengajaran harus memasukkan pernyataan verbal yang jelas, pemodelan yang tepat, serta memeriksa pemahaman melalui pertanyaan dan meminta siswa menunjukkan contoh. Disamping itu, gurupun harus menggunakan dan mendorong tumbuhnya kosa kata kooperatif di dalam pembelajaran, misalnya dengan sering mengungkap, “Kami perlu bantuanmu”, atau “Terima kasih atas bantuanmu”.
III. Penutup
Untuk memaksimalkan pembelajaran, guru harus menetapkan struktur tujuan yang mana yang akan digunakan untuk menghasilkan pencapaian tujuan bagi sebanyak mungkin siswa. Struktur tujuan adalah cara siswa berinteraksi secara verbal maupun secara fisik dengan teman sendiri atau dengan guru ketika terlibat dalam pembelajaran.
Struktur kooperatif lebih tepat dilaksanakan di sekolah bertaraf internasional. Apabila keempat bahan dasar dari pembelajaran kooperatif diterapkan melalui strategi khusus yang tepat, interaksi siswa selama pembelajaran akan dapat secara efektif diatur dan siswa akan memperoleh kemampuan dalam hal fisik dan keterampilan yang berpengaruh pada keberhasilan mereka dalam mencapai apa yang disebut standar kompetensi lintas kurikulum.
IV. Daftar Pustaka
Haryana, Kir. 2007. Konsep Sekolah Bertaraf Internasional (artikel). Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.
Ibid., hal. 37-38
Mudjiman, Hari. 2005. Belajar Mandiri (Self-Motivated Learning). In-Press. Surakarta: UNS.
Mutmainah, Siti. 2007. Pengaruh Penerapan Metoda Pembelajaran Kooperatif Berbasis Kasus yang Berpusat pada Mahasiswa Terhadap Efektivitas Pembelajaran Akuntansi Keperilakuan. Jurnal. Diakses di http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/11308264285.pdf pada 25 Desember 2011.
Phipps, Maurice et al. 2001. University Students’ Perception of Cooperative Learning: Implications for Administrators and Instructor. The Journal of Experiential Education. Spring, Vol. 24 No.1, p.14-21.
Potthast, Margaret J., 1999. Outcomes of Using Small-Group Cooperative Learning Experiences in Introductory Statistics Coures. College Student Journal. March Vol. 22, Isuue 1.
Smith, B. L., and MacGregor, J. T. (1992). "What is collaborative learning?" In Goodsell, A. S., Maher, M. R., and Tinto, V., Eds. (1992), Collaborative Learning: A Sourcebook for Higher Education. National Center on Postsecondary Teaching, Learning, & Assessment, Syracuse University.
http://dikdas.kemdiknas.go.id/docs/dok_34.pdf
Nurina Happy
NIM. 11709251047
Abstrak
Pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) berkaitan dengan perspektif yang menekankan kinerja berkualitas, kapasitas inovatif, otonomi, dll. Pembelajaran di kelas perlu didesain agar dapat mengakomodasi pengembangan siswa sesuai yang diharapkan dari adanya pengembangan SBI. Terdapat tiga cara dasar siswa untuk interaksi, yaitu: kompetitif, individualistis, dan kooperatif. Struktur pembelajaran kooperatif adalah stuktur yang diharapkan dapat dikembangkan di sekolah-sekolah bertaraf internasional karena keunggulan-keunggulan yang dimilikinya.
Kata kunci: SBI, struktur pembelajaran
I. Pendahuluan
Pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) berhubungan erat dengan perspektif global untuk membangun sekolah-sekolah berkinerja tinggi. Perspektif ini menekankan perlunya transformasi sekolah nasional menuju SBI dengan karakteristik otonomi yang lebih luas, kapasitas inovatif, kinerja berkualitas, dan orientasi nilai (Dharma: 2007). Bagaimanakah dengan siswa-siswa dari sekolah bertaraf internasional tersebut? Pembelajaran seperti apa yang mampu mengakomodasi tuntutan tersebut?
Penyelenggaraan SBI didasari filosofi eksistensialisme dan esensialisme (fungsionalisme). Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, pro-perubahan, kreatif, inovatif, dan eksperimentif), menumbuhkan dan mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik (Haryana, 2007).
Filosofi eksistensialisme berpandangan bahwa dalam proses belajar mengajar, peserta didik harus diberi perlakuan secara maksimal untuk mengaktualkan, mengeksiskan, menyalurkan semua potensinya, baik potensi (kompetensi) intelektual (IQ), emosional (EQ), dan Spiritual (SQ). Filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi dan relevan dengan kebutuhan, baik kebutuhan individu, keluarga, maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub-sub sektornya, baik lokal, nasional, maupun internasional. Terkait dengan tuntutan globalisasi, pendidikan harus menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang mampu bersaing secara internasional. Dalam mengaktualkan kedua filosofi tersebut, empat pilar pendidikan, yaitu: learning to know, learning to do, learning to live together, and learning to be merupakan patokan berharga bagi penyelarasan praktek-praktek penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, mulai dari kurikulum, guru, proses belajar mengajar, sarana dan prasarana, hingga sampai penilainya (Ibid., hal. 37-38).
II. Pembahasan
Ada tiga cara dasar bagaimana siswa dapat berinteraksi satu sama lain, yaitu kompetitif, individualistis, dan kooperatif. Siswa dapat berkompetisi untuk melihat siapa yang terbaik, mereka dapat bekerja individualistis untuk mencapai tujuan tanpa memberi perhatian kepada siswa lain, atau mereka dapat bekerja sama dan saling memberi perhatian.
Keadaan motivasi belajar terkait erat dengan struktur pembelajaran yang digunakan guru di kelas. Struktur pembelajaran yang dikenal adalah struktur kompetitif, struktur individual, dan struktur kooperatif (Ames, 1984). Guru harus dapat mengambil bagian-bagian yang baik dari setiap struktur pembelajaran guna meningkatkan motivasi belajar siswa.
Ketiga struktur pembelajaran di atas secara singkat dijelaskan oleh Mudjiman (2005) sebagai berikut:
1. Struktur kompetitif
Struktur pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan formal-tradisional adalah struktur kompetitif. Sistem penilaian yang digunakan dalam struktur ini mendorong siswa untuk berkompetisi dengan kawan-kawannya. Kemampuan mereka diukur dengan nilai dan rank. Orientasi siswa adalah “menang atau kalah”. Belajar yang berhasil adalah kalau dapat mengalahkan kawannya sehingga terjadi persaingan dengan segala akibat baik dan buruknya.
Dalam struktur pembelajaran kompetitif, motivasi belajar bersifat egoistic, karena kompetisi dalam konteks sistem tradisional menumbuhkan sikap self defense. Namun demikian struktur pembelajaran kompetutif motivasi belajar juga bersifat social comparative. Tujuan belajar tidak semata-mata untuk menguasai sesuatu kompetensi melainkan untuk menunjukkan kepada siswa lain bahwa ia lebih baik. Ini merupakan salah satu ciri motivasi instrinsik.
Selama pembelajaran yang berstruktur kompetitif, siswa bergantung secara negatif kepada yang lain. Ketergantungan negatif terjadi ketika keberhasilan seorang siswa atau kelompok siswa terkait erat dengan ketidakberhasilan siswa atau sekelompok siswa lain. Seorang siwa dapat melakukan yang terbaik ketika siswa yang lain tidak bisa menjadi yang terbaik.
Beberapa hal positif biasanya dipercayai guru dalam penggunaan tujuan tersebut. Asumsi utamanya menunjuk pada kepercayaan bahwa makhluk hidup termasuk manusia memang memiliki kecenderungan bawaan untuk berkompetisi. Dan karenanya, harus belajar berkompetisi agar bisa sukses dalam dunia yang semakin kompetitif ini. Beberapa ahli umumnya menghubungkan kompetisi dengan hasil-hasil seperti berikut:
a. Pengembangan karakter,
b. Peningkatan self-esteem dan self-confidence,
c. Motivasi untuk sukses,
d. Pemantapan keunggulan sebagai tujuan,
e. Mempertahankan minat keikutsertaan,
f. Rasa keberhasilan pribadi setelah mengalahkan orang lain.
Cara berpikir alternatif tentang kompetisi dan pengaruhnya pada pembelajaran timbul ketika asumsi dan hasil yang berbeda mulai diperhatikan oleh kita. Cukup menarik untuk menemukan bahwa kebanyakan interaksi harian dalam hidup lebih bersifat kooperatif, tidak kompetitif. Buktinya kita lebih sering bergantung pada peranan orang di luar diri kita.
Di samping itu, kompetisi dengan sifat sangat bergantungnya pada standar (misalnya peraturan atau peralatan), justru menghasilkan situasi yang kurang diharapkan pada banyak siswa, sebab mereka tidaklah bersifat standar. Tetapi, mereka lebih bersifat heterogen dalam berbagai hal: kemampuan, minat, pengalaman, dan kematangan. Dengan kata lain, perbedaan individual siswa tidak sejalan dengan persyaratan yang dibutuhkan untuk kompetisi.
Akibatnya, kompetisi dapat menjadi sebuah pengalaman yang menghambat pembelajaran bagi banyak siswa. Apalagi, karena tingginya tingkat kegagalan yang ditemui dalam kompetisi, hanya mereka yang mempunyai kesempatan untuk berhasil sajalah yang termotivasi. Karenanya kompetisi hanya tepat bagi sekelompok siswa terpilih dalam satu kelas yang menunjukkan tingkat keterampilan dan kemampuan yang sama serta memilih untuk membandingkan penampilannya dengan orang lain. Beberapa ahli justru menunjukkan bahwa aktivitas kompetitif membatasi kesempatan belajar siswa.
Seperti juga dilansir oleh beberapa pengamatan, keikutsertaan dalam aktivitas kompetisi tradisional tidak memberikan kesempatan pada semua siswa untuk berlatih, menguasai, dan memperhalus keterampilan yang diperlukan dalam partisipasi mereka. Menggunakan aktivitas kompetitif di kelas dapat menjadi penghalang pada pembelajaran siswa.
2. Struktur individual
Pembelajaran dengan struktur individual banyak dijalankan dalam sistem pendidikan nonformal atau dalam pendidikan formal-tradisional tetapi ada penugasan-penugasan individual sesuai minat masing-masing. Dalam struktur pembelajaran individual, siswa berorientasi kepada pencapaian kompetensi. Bila masih terjadi kompetensi, yang terjadi adalah kompetisi dengan diri sendiri, bukan dengan kawan-kawannya, suasanya bebas dari rasa tertekan. Umunya siswa percaya bahwa kerasnya usaha-lah yang menentukan keberhasilan belajar, bukan semata-mata kemampuan. Dalam struktur pembalajaran ini motivasi belajar siswa beroientasi ke penguasaan sesuatu kompetensi. Sifat motivasinya instrinsik.
Pada saat pembelajaran individual, siswa biasanya tidak saling berhubungan dan tidak saling menggantungkan diri dengan siswa lain. Ketidakbergantungan tersebut didefinisikan sebagai tidak adanya hubungan kerja antara individu selama berusaha mencapai tujuan pembelajarannya. Selama pembelajaran individual, pencapaian tujuan dari seorang siswa tidak mempengaruhi pencapaian tujuan dari siswa yang lain. Demikian juga sebaliknya, tidak adanya usaha pencapaian tujuan dari seorang siswa tidak juga mempengaruhi ada atau tidak adanya usaha dari siswa lain.
Keyakinan bahwa usaha dan produktivitas hasil dari pembelajaran individual merupakan hal yang baik sudah diterima secara umum. Hasil-hasil seperti di bawah ini umumnya diyakini sebagai kelebihan dari pembelajaran individual:
a. Pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa,
b. Memerlukan keterlibatan dari guru yang minimal,
c. Pembelajaran individual meningkatkan pencapaian tujuan,
d. Semua siswa mengalami keberhasilan,
e. Pembelajaran individual menghilangkan persoalan sosial,
f. Identitas dan karakter pribadi berkembang melalui kerja mandiri,
g. Pembelajaran individual meningkatkan disiplin pribadi,
h. Pembelajaran individual menghilangkan masalah kedisiplinan kelompok.
Namun demikian, banyak juga para ahli yang meragukan bahwa pembelajaran individual benar-benar efektif mengembangkan sifat-sifat di atas. Dari pengamatan, lebih banyak hal kontradiktif dari hasil di atas yang dapat ditemukan.
Pembelajaran individual, meskipun dipandang tepat untuk situasi tertentu, namun biasanya tidak berhasil mencapai hasil-hasil di atas bagi umumnya siswa. Pembelajaran individual tidak mendukung interaksi interpersonal yang positif di antara siswa karena siswa tidak diharuskan untuk berinteraksi. Diragukan juga bahwa pembelajaran individual dapat mengeliminir masalah sosial ketika siswa dipisahkan dari kegiatan temannya, karena saling ejek, pelabelan stereotipe, dan kecurigaan antar siswa tetap dapat berkembang.
3. Struktur kooperatif
Smith dan MacGregor (1992) mendefinisikan cooperative learning sebagai “the most carefully structured end of the collaborative learning contiunumm”. Johnson dan Holubec (1994) mendefinisikan cooperative learning sebagai “the instructional use of smaal groups so that students work together to maximize their own and each other’s learning” (Phipps et.al., 2001).
Struktur pembelajaran ini dapat dilaksanakan di kelas-kelas tradisional dalam bentuk kerja kelompok, atau dikelas-kelas pendidikan non-formal. Sikap kompetitif masih ada pada setiap kelompok, tetapi orientasi belajar utamanya adalah pencapaian suatu kompetensi atau pemecahan masalah.
Berbagai riset tentang cooperative learning menunjukkan hasil yang konsisten bahwa cooperative learning akan meningkatkan prestasi, hubungan interpersonal yang lebih positif dan self-esteem yang lebih tinggi dibandingkan dengan upaya kompetitif atau individualistis (Phipps et.al., 2001). Phipps et.al. mencatat keberhasilan metode ini antara lain dari hasil riset Felder dan Brent (1996) yang menyatakan bahwa pendekatan ini meningkatkan motivasi untuk belajar, memori pengetahuan, kedalaman pemahaman, dan apresiasi subyek yang diajar. Riset juga menunjukkan bahwa praktik cooperative learning mengarahkan siswa pada pencapaian prestasi yang lebih tinggi, lebih efisien, dan efektifnya proses dan pertukaran informasi, meningkatkan produktivitas, hubungan yang positif di antara mahasiswa, dan membentuk saling percaya antarteman, dibandingkan dengan pengalaman pembelajaran kompetitif dan/atau individualistis (Potthast, 1999).
Upaya kooperatif diharapkan menjadi lebih produktif dibanding upaya kompetitif ataupun individualistis, bila upaya kooperatif tersebut berada di dalam kondisi tertentu. Kondisi ini kemudian merupakan elemen dasar terbentuknya cooperative learning. Kelima elemen dasar cooperative learning mencakup perlunya interdependensi positif, adanya interaksi tatap muka (face-to-face interaction), dimilikinya individual accountability, digunakannya collaborative skills, dan adanya group processing. Kempat hal tersebut diuraiakan sebagai berikut:
a. Pembentukan regu
Untuk menambah manfaat dari pembelajaran kooperatif, tugas pembentukan regu harus dilakukan secara hati-hati. Kelompok atau regu bersifat heterogen baik dalam hal jenis kelamin, ras, status ekonomi, dan kemampuan. Peningkatan dalam keterampilan berpikir, frekuensi dalam memberi dan menerima bantuan, serta jarak yang lebih lebar dalam hal sudut pandang terjadi jika kelompok yang dibentuk bersifat campuran.
Ketika memulai menggunakan pembelajaran kooperatif, mulailah dengan regu berpasangan. Pasangan memungkinkan partisipasi maksimum, komunikasi yang meningkat, dan memberi kesempatan untuk melatih keterampilan kolaboratif yang diperlukan. Pengelompokan pasangan secara mudah dirubah menjadi kelompok lebih besar, empat atau enam orang, sehingga meminimalkan pengaturan waktu. Siswa dapat ditugaskan pada kelompok kooperatif oleh guru atau kelompok dapat dikelompokkan secara acak. Kelompok yang dipilih guru biasanya menghasilkan pengelompokan yang efektif dan memerlukan sedikit waktu untuk mengaturnya. Sedangkan metode untuk mengelompokkan siswa secara acak adalah dengan meminta siswa untuk berkelompok berdasarkan ketentuan yang berubah-ubah dari guru. Misalnya, berkelompoklah dengan teman yang belum pernah jadi kelompok, dsb.
b. Saling ketergantungan positif
Inti dari pembelajaran kooperatif adalah saling ketergantungan positif. Hal ini terjadi ketika aktivitas pembelajaran mengharuskan pencapaian tujuan dari seorang siswa dihubungkan dengan pencapaian tujuan dari siswa lain. Pencapaian tujuan dalam pembelajaran kooperatif bersifat inklusif yang saling menguntungkan, yaitu usaha bersama.
Oleh karena itu guru dapat merancang aktivitas yang harus dilaksanakan bersama, baik bersamaan dalam hal waktu maupun bergantian, dan hasilnya-pun dinilai dari hasil kelompok. Saling ketergantungan positif berlangsung melalui penstrukturan tugas dan penghargaannya. Struktur tugas menentukan bagaimana siswa bekerja bersama selama pembelajaran kooperatif. Tugas-tugas dapat dibangun dalam beberapa cara untuk menghasilkan saling ketergantungan positif, sebagai berikut:
1) Kelompok kecil menghasilkan produk tunggal.
Contoh: kelas dibagi ke dalam beberapa kelompok yang beranggotakan empat orang. Setiap grup menciptakan satu kreasi yang didasarkan pada satu tema, kemudian berbagi andil tema mereka kepada kelompok lain.
2) Tugas dibagi dalam regu belajar siswa.
Contoh: dalam kelompok yang beranggotakan empat siswa, setiap siswa mendapat tugas tertentu.
3) Setiap siswa melakukan tugas tertentu sebelum kelompok itu melakukan tugas berikut.
4) Siswa berkolaborasi mencapai tujuan regu.
Saling ketergantungan positif pada dasarnya mencyaratkan empat kondisi seperti berikut:
1) Interaksi verbal positif berhadapan muka (face to face)
2) Interaksi fisik positif jika dipandang tepat
3) Sumbangan maksimum dari anggota regu
4) Keberhasilan dari masing-masing anggota regu berhubungan dengan keberhasilan anggota regu yang lain
Pilihlah kegiatan yang memungkinkan siswa bekerja bersama saling berdekatan, saling memberikan dukungan, serta memungkinkan terjadinya keikutsertaan penuh secara aktif melakukan tugas kelompok. Seorang siswa tidak dapat berhasil sendirian; saling ketergantungan harus cukup kuat.
c. Akuntabilitas perorangan
Akuntabilitas atau tanggung jawab merupakan faktor penting dalam situasi pembelajaran dan pengajaran. Dalam pembelajaran kooperatif hal itu lebih esensial karena pembelajaran siswa menjadi hasil yang paling iharapkan dari keikutsertaannya dalam pembelajaran kooperatif. Di bawah ini adalah tiga cara atau strategi yang dapat digunakan untuk memegang akuntabilitas individual siswa baik dalam proses pembelajaran maupun dalam hal membantu orang lain.
1) Guru bertanya secara acak meminta penjelasan siswa.
Contoh: ketika sekelompok siswa sedang terlibat dalam perancangan suatu tugas, guru dapat menanyakan pada satu orang siswa tentang mengapa mereka memiliki alat/metode tertentu serta keterampilan/penyelesaian apa yang akan dilakukan dengan alat/metode tersebut. Bahkan guru pun dapat meminta seorang siswa menunjukkan atau mendemonstrasikan keterampilan/penyelesaian yang akan dilakukan.
2) Siswa berbagi gagasan dan strategi pada kelompok lain.
Contoh: setelah seluruh kelas dibagi dan masing-masing kelompok melakukan tugas yang diminta (tentu setiap regu punya tugas yang berbeda), setiap regu diwajibkan untuk mengajarkan cara melakukan tugas tersebut pada regu lainnya. Setiap siswa dapat bertanggung jawab untuk mengajarkan komponen khusus dari tugas yang dimaksud.
3) Guru mengatur kegiatan untuk memastikan bahwa semua siswa dibutuhkan.
Ini berkaitan dengan bagaimana guru mengatur tugas dan menyampaikannya pada siswa. Guru harus memastikan bahwa semua siswa terlibat dalam kegiatan, jangan sampai ada saat menunggu yang terlalu lama sampai seorang siswa melakukan tugasnya. Hal inipun tentu berhubungan juga dengan alat yang bisa digunakan, jangan sampai satu regu atau beberapa orang siswa menunggu giliran karena jumlah alatnya tidak mencukupi.
Jika guru berfikir secara hati-hati tentang pembentukan regu, merencanakan saling ketergantungan positif, dan memastikan bahwa semua siswa terkontrol tanggung jawabnya, maka pembelajaran kooperatif akan berlangsung efektif.
d. Keterampilan kolaboratif.
Keterampilan berkolaborasi yang diperlukan dalam pembelajaran kooperatif meliputi:
1) Mendengarkan pendapat orang lain
2) Memecahkan konflik
3) Mendukung dan mendorong orang lain
4) Menunggu dan melaksanakan giliran
5) Mengekspresikan kegembiraan atas keberhasilan orang lain
6) Menunjukkan kemampuan untuk mengkritisi gagasan bukan orang yang melontarkannya.
Pengajaran harus memasukkan pernyataan verbal yang jelas, pemodelan yang tepat, serta memeriksa pemahaman melalui pertanyaan dan meminta siswa menunjukkan contoh. Disamping itu, gurupun harus menggunakan dan mendorong tumbuhnya kosa kata kooperatif di dalam pembelajaran, misalnya dengan sering mengungkap, “Kami perlu bantuanmu”, atau “Terima kasih atas bantuanmu”.
III. Penutup
Untuk memaksimalkan pembelajaran, guru harus menetapkan struktur tujuan yang mana yang akan digunakan untuk menghasilkan pencapaian tujuan bagi sebanyak mungkin siswa. Struktur tujuan adalah cara siswa berinteraksi secara verbal maupun secara fisik dengan teman sendiri atau dengan guru ketika terlibat dalam pembelajaran.
Struktur kooperatif lebih tepat dilaksanakan di sekolah bertaraf internasional. Apabila keempat bahan dasar dari pembelajaran kooperatif diterapkan melalui strategi khusus yang tepat, interaksi siswa selama pembelajaran akan dapat secara efektif diatur dan siswa akan memperoleh kemampuan dalam hal fisik dan keterampilan yang berpengaruh pada keberhasilan mereka dalam mencapai apa yang disebut standar kompetensi lintas kurikulum.
IV. Daftar Pustaka
Haryana, Kir. 2007. Konsep Sekolah Bertaraf Internasional (artikel). Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.
Ibid., hal. 37-38
Mudjiman, Hari. 2005. Belajar Mandiri (Self-Motivated Learning). In-Press. Surakarta: UNS.
Mutmainah, Siti. 2007. Pengaruh Penerapan Metoda Pembelajaran Kooperatif Berbasis Kasus yang Berpusat pada Mahasiswa Terhadap Efektivitas Pembelajaran Akuntansi Keperilakuan. Jurnal. Diakses di http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/11308264285.pdf pada 25 Desember 2011.
Phipps, Maurice et al. 2001. University Students’ Perception of Cooperative Learning: Implications for Administrators and Instructor. The Journal of Experiential Education. Spring, Vol. 24 No.1, p.14-21.
Potthast, Margaret J., 1999. Outcomes of Using Small-Group Cooperative Learning Experiences in Introductory Statistics Coures. College Student Journal. March Vol. 22, Isuue 1.
Smith, B. L., and MacGregor, J. T. (1992). "What is collaborative learning?" In Goodsell, A. S., Maher, M. R., and Tinto, V., Eds. (1992), Collaborative Learning: A Sourcebook for Higher Education. National Center on Postsecondary Teaching, Learning, & Assessment, Syracuse University.
http://dikdas.kemdiknas.go.id/docs/dok_34.pdf
Sabtu, 24 Desember 2011
Comment pada: Elegi Tasyakuran Spiritual Ketiga (Proyek Syurga)
- Dalam Q.S. Al-Muminun 1-11 dikatakan bahwa terdapat enam golongan
manusia yang dirindukan syurga. Siapakah empat golongan tersebut? orang
itu adalah
1. Orang-orang yang beriman yang khusyu dalam sembahyangnya
2. orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna
3. orang-orang yang menunaikan zakat
4. orang-orang yang menjaga kemaluannya
5. orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya
6. orang-orang yang memilihara sembahyangnya - December 25, 2011 12:43 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Ontologi dan Epistemologi Jawa: Hubungan subyek predikat dalam Serat Sastra Gending
- Betapa kaya filsafat jawa dalam menggambarkan/mengatur hidup manusia dalam menggapai sebuah keseimbangan dan keteraturan hidup. Filsafat jawa tidak hanya dapat dipergunakan oleh orang-orang jawa tetapi nilai-nilainya dapat digunakan oleh semua manusia karena di dalamnya terkandung nilai-nilai adiluhung.
- December 25, 2011 12:23 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Ontologi dan Epistemologi Jawa: Mengerti Hidup?
- Pertunjukan wayang memiliki tiga fungsi, yaitu:
1. Wayang sebagai tontonan sudah jelas enak untuk ditonton atau dilihat atau didengarkan.
2. Wayang sebagai tuntunan sudah jelas pula dalam pertunjukan selalu diselipkan ajaran ajaran budi pekerti yang tentunya syarat dengan pesan pesan moral.
3. Wayang sebagai tatanan sedah jelas pula bahwa tata kehidupan manusia sudah digambarkan dalam sebuah alur cerita yang dibawakan sang Dalang.
Ketiga pesan dalam elegi ini yaitu sadar akan ruang dan waktu, berpikir intensif dan ekstensif, dan menggapai logos merupakan suatu cara yang harus dilakukan untuk mendapatkan keseimbangan hidup. - December 25, 2011 12:13 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Sastra Jawa
Beberapa filsafat jawa diantaranya
1. Memayu hayuning bawana (melindungi bagi kehidupan dunia)
2. Sukeng tyas yen den hita (suka/bersedia menerima nasihat, kritik, tegoran)
3. Jer basuki mawa beya (keberhasilan seseorang diperoleh dengan pengorbanan)
4. Ajining dhiri dumunung ing kedhaling lathi (nilai diri seseorang terletak pada gerak lidahnya)
5. Ajining sarira dumunung ing busana (nilai badaniah seseorang terletak pada pakaiannya)
6. Amemangun karyenak tyasing sesama (membuat enaknya perasaan orang lain)
7. Kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pasthi (Gejolak jiwa tidak bisa merubah kepatian)
8. Budi dayane manungsa ora bisa ngungkuli garise Kang Kuwasa (Budi daya manusia tidak bisa mengatasi takdir Yang Maha Kuasa)
9. Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti (kemarahan dan kebencian akan terhapus/hilang oleh sikap lemah lembut)
10. Tan ngendhak gunaning janma (tidak merendahkan kepandaian manusia)
Masih banyak lagi falsafah jawa yang bermanfaat bila kita mau mempelajarinya dan mengamalkannya.
1. Memayu hayuning bawana (melindungi bagi kehidupan dunia)
2. Sukeng tyas yen den hita (suka/bersedia menerima nasihat, kritik, tegoran)
3. Jer basuki mawa beya (keberhasilan seseorang diperoleh dengan pengorbanan)
4. Ajining dhiri dumunung ing kedhaling lathi (nilai diri seseorang terletak pada gerak lidahnya)
5. Ajining sarira dumunung ing busana (nilai badaniah seseorang terletak pada pakaiannya)
6. Amemangun karyenak tyasing sesama (membuat enaknya perasaan orang lain)
7. Kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pasthi (Gejolak jiwa tidak bisa merubah kepatian)
8. Budi dayane manungsa ora bisa ngungkuli garise Kang Kuwasa (Budi daya manusia tidak bisa mengatasi takdir Yang Maha Kuasa)
9. Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti (kemarahan dan kebencian akan terhapus/hilang oleh sikap lemah lembut)
10. Tan ngendhak gunaning janma (tidak merendahkan kepandaian manusia)
Masih banyak lagi falsafah jawa yang bermanfaat bila kita mau mempelajarinya dan mengamalkannya.
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas IV: Enggan Pulang dan Ingin Mati?
- Berikhtiarlah seolah-seolah kamu akan hidup selamanya dan beribadahlah seolah-olah kamu akan mati. Betapa mengerikannya membayangkan kematian bila hidup dipenuhi dengan dosa-dosa. Kematian itu sangat sakit rasanya. Apalagi sakarotul maut kita tidak sebanding dengan Rosululloh. Rosul meminta setengah dari rasa sakitnya kemudian setengahnya lagi dibagikan untuk semua manusia. Subhanalloh. Semoga kita senantiasa memperbaiki amalan kita di dunia sebagai bekal di akhirat kelak.
- December 25, 2011 11:09 AM
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas II: Cantraka Sakti Berkonsultasi kepada Muhammad Nurikhlas
- Kita tidak akan pernah tau siapa orang yang ikhlas karena ikhlas hanya ada dalam hati tiap orang dan hanya Alloh lah yang mengetahui isi hati setiap hambaNya. Untuk memiliki hati yang ikhlas bukan perkara yang mudah karena ikhlas itu sendiri merupakan dimensi keimanan yang tinggi. Oleh karena itu lah, syurga merindukan orang-orang yang memiliki hati yang ikhlas. Semoga kita semua dapat terus memperbaiki keikhlasan kita atas ridho dari Alloh SWT.
- December 25, 2011 10:47 AM
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas II: Tanya jawab pertama perihal Hati yang Ikhlas
- Keikhlasan dapat ternodai dengan adanya penyakit hati. Maka kita perlu membersihkan hati kita agar keihlasan kita tidak ternodai dengan adanya penyakit hati tersebut. Selalu berusaha menyadari bahwa hanya Alloh lah yang memiliki segala sesuatu di dunia maupun di akhirat, di bumi maupun di langit, hanyalah Dia yang pantas dipuja dan disanjung, dan tak ada yang perlu kita banggakan atas apa yang kita miliki saat ini, serta tak pantaslah kita meminta dan mengharap pujian dari makhluk ciptaanNya mungkin bisa melatih kita untuk menjaga hati kita dari penyakit hati dan juga bisikan syaitan. Semoga Alloh selalu menjaga hati-hati kita yang rapuh ini. Amin.
- December 25, 2011 10:35 AM
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas III: Wasiat Muhammad Nurikhlas kepada Para Cantraka : Meretas Sejarah Peradaban Manusia
- Ilmu yang didapat di bangku sekolah atau kuliah hanyalah sebagian kecil dari ilmu kehidupan yang sesungguhnya. Banyak hal yang akan terjadi di luar sana. Dari sekolah/kuliah itulah kita mempersiapkan sedikit bekal untuk menghadapi kehidupan. Setiap orang akan menemui kehidupannya masing-masing. Bisa jadi setiap orang akan menemui kesuksesan dan kegagalan yang berbeda, kemudahan dan batu kerikil yang tidak sama, dan sebagainya. Semoga ilmu yang selama ini kita pelajari mampu untuk kita pergunakan dalam mengisi kehidupan kita, berguna/bermanfaat bagi kehidupan kita dan orang lain,dan menjadikannya lebih berkembang dalam rangka membangun hidup kita masing-masing.
- December 25, 2011 10:23 AM
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas II: Cantraka Hitam Menguji Ilmu Hitamnya
-
Tiadalah kekuatan yang mampu menandingiNya termasuk kekuatan hitam.
Dia-lah yang menguasai segala yang ada di bumi dan di langit. Jika Tuhan
berkehendak untuk menghentikan perputaran bumi pada porosnya maka
hancurlah bumi kita dan seisinya. Jika Tuhan berkehendak menghilangkan
oksigen yang dapat kita dapatkan dengan mudah saat ini, maka matilah
seluruh kehidupan. Jika Tuhan pun berkehendak mengambil nikmat sehat
pada diri manusia maka penderitaan lahir batin lah yang akan di dapat.
Tetapi, Tuhan tidak pernah melakukan hal tersebut kecuali pada saatnya
nanti. Maka nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan? Tak perlulah
mengTuhankan kekuatan hitam atau yang lain karena semua itu sia-sia.
Segera bertobat ketika hidayah sudah mengetuk hati kita. Karena hanya
padaNya lah kita semua kembali.
- December 24, 2011 9:26 PM
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas I: Cantraka Sakti belum Ikhlas
-
Terkadang seseorang yang mengejar urusan duniawi seringkali lupa pada
urusan akhrati. Mengejar gelar, mengejar jabatan, mengejar kekayaan,
mengejar kenyamanan, dsb seringkali membuat kita lupa bahwa semua itu
tidak akan dibawa ketika kita mati. Barulah ketika sudah menyadari
usianya yang semakin tua dan renta, menyadari bahwa hidupnya tak akan
lama lagi, manusia baru kembali padaNya. Semoga kita semua selalu
menggapai ikhlas dalam hidup ini untuk menggapai RidhoNya. Amin.
- December 24, 2011 9:14 PM
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas I: Persiapan teknis
-
Persiapan teknis untuk mengikuti ritual ikhlas ini tentunya terlebih
dahulu menyiapkan niat yang benar dan hanya untuk mendapat Ridho Alloh.
Menyiapkan diri untuk menghadap Alloh tentunya butuh persiapan yang baik
diantaranya baju yang bersih, rukuh/sarung yang rapi, menggunakan
wewangian secukupnya, dsb.
- December 24, 2011 7:41 PM
Comment pada: Elegi Pertengkaran Para Orang Tua Berambut Putih
-
Setiap ilmu berhubungan atau berkesinambungan dengan ilmu-ilmu
sebelumnya. Hal tersebut dapat melalui proses menambahan, pengurangan,
kondisi yang berbeda, pertentangan pikiran, dsb. Setiap ilmu akan
bermanfaat bila kita mau dan mampu mempelajari. Begitu luasnya ilmu
sehingga kita tidak akan pernah mempunyai cukup waktu untuk menguasai
semuanya. Itulah keterbatasan kita sebagai manusia. Tetapi dengan
menyadari bahwa kita pun bisa saja membuat ilmu yang baru seharusnya
mendorong kita untuk belajar lebih dalam dan memikirkannya lebih
mendalam dan mengoneksikannya dengan ilmu-ilmu yang lain.
- December 24, 2011 7:34 PM
Comment pada: Elegi Menggapai "Kant's Analogies of Experience"
-
Pengalaman sangat penting saat kita melalui proses belajar. Belajar
tanpa pengalaman akan tidak bermakna. Terutama belajar matematika
sekolah. Siswa akan merasa jenuh, bosan, dan bahkan ketakutan apabila
matematika diajarkan hanya dalam bentuk formal tanpa adanya pengalaman
'menyentuh' matematika dan mengetahui secara sadar untuk apa iya belajar
matematika dan apa manfaatnya mereka belajar matematika. Belajar
matematika melalui pengalamannya sendiri dapat membentuk sikap positif
pada matematika dan menjadikan pembelajaran lebih bermakna bagi siswa.
- December 24, 2011 7:13 PM
Comment pada: Elegi Pemberontakan Para Formal
-
Yang dapat saya tangkap dari elegi di atas bahwa senjata ampuh untuk
selamat adalah sadar akan ruang dan waktu, berpikir intensif dan
ekstensif, menggapai logos, dan yang paling penting campur tangan Tuhan
disana. Keempat hal tersebut harus berjalan serasi dan seimbang. Bila
timpang pada satu hal akan terjadi disharmoni di dalamnya.
- December 24, 2011 7:01 PM
Comment pada: Elegi Pemberontakan Para Normatif
-
Orientasi akan hanya lulus UN harus mulai dirubah. Pendidikan bukan
hanya proses menyelesaikan soal UN semata, tetapi lebih dari itu.
Pendidikan itu menyiapkan kehidupan yang akan dihadapi masa mendatang.
Siswa-siswa kita akan hidup pada jaman yang bisa jadi sangat berbeda
dengan jaman kita saat ini. Teknologi yang bisa jadi jauh lebih maju
dari sekarang, biaya hidup yang bisa jadi jauh lebih mahal dari
sekarang, pemikiran-pemikiran yang bisa jadi jauh lebih keras dan maju
dari sekarang, dan bisa jadi kehidupan yang semakin anarkis atau bisa
jadi juga semakin santun, ataupun yang lain. Melalui pendidikan lah
siswa harusnya siap akan hal tersebut. Bukan untuk menyelesaikan UN
dengan cara yang tidak jujur, bukan hanya melingkari jawaban pilihan
ganda pada lembar LJK, dsb. Pendidikan harus lebih baik dari sekarang.
Bagaimana cara? perubahan itu adalah tanggung jawab kita bersama.
- December 24, 2011 6:49 PM
Comment pada: Elegi Pemberontakan Para Obyek
-
Subyek adalah sesuatu yang menentukan dan obyek adalah sesuatu yang
ditentukan. Tetapi melihat urutan menentukan dan ditentukan saya rasa
subyek bisa menjadi obyek pada subyek yang lain, dan obyek pun dapat
menjadi subyek pada obyek yang lain. Misalnya, si kaya adalah subyek dan
si miskin adalah obyek. Tetapi si kaya sebagai subyek itu bisa jadi
menjadi obyek bagi si lebih kaya, dan si miskin sebagai obyek bisa jadi
adalah subyek lagi si lebih miskin, dan lain sebagainya.
- December 24, 2011 6:37 PM
Jumat, 23 Desember 2011
Comment pada: Elegi Ketika Sekali Lagi Pikiranku Tak Berdaya
-
Setiap manusia memiliki batas terhadap pikirannya berbeda, seperti
misalnya batas pikiran Albert Einsten dengan Chairil Anwar. Albert
Einsten mampu memikirkan ilmu-ilmu fisika dan teori-teori alam yang
mendalam sampai dikenal teori relativitasnya, sedangkan Chairil Anwar
memikirkan bahasa-bahasa indah yang dipadupadankan menjadi puisi-pusi
yang terkenal sampai sekarang. Setiap orang itu unik dengan cara
berpikirnya masing-masing. Setiap orang berhak mengembangkan pikirannya
sampai pada batas kemampuannya sendiri. Hanya manusia tersebutlah yang
mampu mengontrol pada batas apa dia tak mampu lagi memikirkannya.
Berbeda dengan agama atau KeTuhanan. Banyak hal disana yang tidak mampu
untuk kita pikirkan dan hanya cukup untuk kita imani dan amalkan. Itulah
batas pikiran kita dalam hati kita.
- December 24, 2011 10:19 AM
Comment pada: Elegi Konferensi Patung Filsafat
-
Patung atau mitos adalah musuh terbesar bagi logos kita. Cepat puas pada
pencapaian, merasa nyaman pada posisi yang diduduki sekarang, bangga
pada jabatan dan gelar yang diperoleh, dsb dapat menghambat kita untuk
terus mengembangkan logos kita. Perlulah ikhtiar dan doa-doa yang
intensif dan ekstensif agar terhindar dari mitos-mitos tersebut.
- December 24, 2011 9:58 AM
Comment pada: Elegi Konferensi Daerah Imajiner
-
ilmu itu adalah sebuah dunia dimana semua objek didunia ini dapat
dilekatkan kata ilmu, misalnya ilmu alam, ilmu memasak, ilmu teknologi,
dsb. Begitu luas dan banyaknya ilmu yang bisa dipelajari, kapanpun,
dimanapun, dan dari siapapun. Menyadari betapa banyaknya ilmu yang belum
kita ketahui sudah seharusnyalah mendorong kita untuk terus belajar
menggapai ilmu itu. Betapa sedikitnya yang kita ketahui menyadarkan kita
janganlah terlalu sombong dan cepat puas dengan ilmu kita sekarang.
- December 24, 2011 9:49 AM
Comment pada: Elegi Seorang Hamba Menggapai Harmoni
-
Hidup yang kita jalani ini sesungguhnya adalah sebuah proses menggapai
harmoni. Segala sesuatu yang kita lakukan harus proporsional. Kebutuhan
kehidupan dunia dan akhirat harus diisi secara proposional. Memikirkan
dunia dan memikirkan akhirat harus seimbang. Bekerja sesuai porsinya dan
berdoa pun sesuai porsinya. Segala sesuatu yang berlebihan tidak
disukai oleh Alloh SWT. Sehingga menggapai harmoni lah yang selalu harus
kita usahakan
- December 24, 2011 9:37 AM
Comment pada: Elegi Perbincangan Bukan Benar dan Bukan Salah
-
benar itu sebuah dunia, salah juga sebuah dunia,
bukan benar pun sebuah dunia, dan bukan salah pun juga dunia..
menempatkan segala sesuatu pada tempatnya benar, salah, bukan, benar, dan bukan salah akan menjadikan segala sesuatu lebih proporsional..
- December 24, 2011 9:14 AM
Kamis, 22 Desember 2011
Comment pada Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih
- Memperlajari filsafat tanpa menggunakan filsafat di dalamnya saya rasa merupakan metode yang baik karena paradigma yang ada sebelum mengetahui apa sebenarnya filsafat itu adalah bahwa orang yang masuk jurusan filsafat memiliki karakter yang aneh. Ternyata setelah mempelajarinya sedikit tidak seaneh itu, justru dari filfasat lah pikiran menjadi lebih terbuka, menyadari betapa pentingnya landasan filosofis atas segala sesuatu, dsb. Filsafat yang diperbincangkan dalam elegi-elegi terkadang membuat sulit untuk dipahami maknanya, tetapi justru itulah tantangannya, mahasiswa perlu mengolah pikirannya untuk dapat memahami maksud dari elegi yang dia baca dan membangun filsafatnya sendiri.
- December 22, 2011 11:38 PM
Senin, 12 Desember 2011
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas I: Informasi awal
-
Untuk memulai ritual ikhlas dalam arti beribadah terlebih dahulu
mengikhlaskan hati juga hal-hal yang dapat mengurangi nilai ibadah itu
sendiri. Ketika akan beribadah, kita tidak dipandang sebagai individu
dengan gelar sarjana/magister/doktor, kita tidak dipandang sebagai
seorang dengan jabatan/pangkat yang tinggi, tidak dipandang sebagai si
kaya dan si miskin, tidak dipandang sebagai seorang yang canti/ganteng
atau buruk rupa, tidak dipandang sebagai orang tua atau anak, dsb.
Hal-hal tersebut memang dapat mendukung ibadah kita, tetapi bila
karenanya timbul rasa ria atau ketidakikhlasan maka itu akan mengurangi
nilai ibadah. Yang semua itu terkadang masih sangat sulit dilakukan.
Perlu terus belajar mengasah hati kita agar dapat mengikhlaskan semua
itu agar ibadah kita ternodai dengan hal-hal tersebut.
- December 13, 2011 6:37 AM
Comment pada: Salam dari Thailand
-
Logika berasal dari kata Yunani logos yang berarti hasil pertimbangan
akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.
Logika dapat dipandang sebagai ilmu pengetahuan dan juga sebagai cabang
filsafat. Logika sebagai ilmu pengetahuan berarti logika merupakan
sebuah pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya
penalaran/proses penalaran) dan obyek formalnya adalah
berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya. Sedangkan
logika sebagai cabang filsafat berarti logika adalah sebuah cabang
filsafat yang praktis, yaitu dapat dipraktekkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Logika sudah dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM). Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Menurut Aristoteles, filsuf yang mengenalkan logika sebagai ilmu, logika Thales yaitu air adalah arkhe alam semesta disimpulkan dari:
* Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan
* Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
* Air jugalah uap
* Air jugalah es
Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti air adalah arkhe alam semesta.
Sejak Thales mengenalkan pernyataannya (logika induktif), logika telah mulai dikembangkan.
Pada masa Aristoteles logika masih disebut dengan analitica, yang secara khusus meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proporsi yang benar, dan dialektika yang secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proporsi yang masih diragukan kebenarannya. Sedangkan istilah logika sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Zeno (334 SM - 226 SM).
Dasar dari penalaran dalam logika ada dua, yaitu deduktif dan induktif. Penalaran deduktif (logika deduktif) adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Penalaran induktif (logika induktif) adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
Lalu apa sebenarnya kegunaan dari logika?
Kegunaan logika diantaranya:
1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis, dan koheren.
2. Meningkatkan kemampun berpikir secara abstrak, cermat, dan obyektif.
3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis.
5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan, serta kesesatan.
6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
7. Apabila sudah mampu berpikir rasional, kritis, lurus, metodis, dan analitis maka akan meningkatkan citra diri seseorang.
sumber:
http://id/wikipedia.org/wiki/logika
- November 22, 2011 5:52 PM
Comment pada: Metafisika Filsafat
-
Filsafat dibangun oleh setiap manusia sesuai dengan dimensi pikirannya.
Olah pikir tersebut tergantung pada bagaimana kekritisan orang tersebut
dalam menerjemahkan dan diterjemahkan kemudian bagaimana pula
menjelaskannya melalui kata-kata. Sehingga filsafat pada setiap individu
akan berkembang sesuai dengan kemampuan olah pikir masing-masing
individu. Selain itu, ternyata filsafat berkembang sesuai dengan
pengalaman, pergaulan, logika, ide, pertanyaan, rasional, bahasa, dan
kesalahan. Maka melalui perkuliahan filsafat maupun elegi-elegi
Bapak-lah saya belajar itu semua yaitu mengembangkan filsafatku dalam
rangka membangun hidupku. Semoga, latihan ini dapat terus saya lakukan
dan terapkan dalam kehidupan saya pribadi maupun tugas saya sebagai
guru.
- November 22, 2011 6:42 AM
Comment pada: Elegi Memahami Elegi
-
Pertama kali saya mengetahui elegi bapak, saya sempat terheran-heran apa
yang sebenarnya saya baca karena saya tidak mengerti dengan apa yang
saya baca tersebut. Tetapi, ketika menemukan sekuel elegi yang menarik
menurut saya, saya merasa ingin terus membaca, meskipun saya sadari
selama ini comment yang saya berikan mungkin sangat melenceng dari makna
yang Bapak harapkan. Namun, saya juga sedang berproses untuk belajar
memahami makna dari elegi yang Bapak tulis. Apa yang saya pikirkan saya
sadari tidak akan sama dengan apa yang Bapak pikirkan karena Bapak
memiliki dimensi pemikiran yang lebih tinggi daripada saya. Selain itu
juga pengalaman, pergaulan, ide, logika, dsb yang memang masih jauh
lebih luas dari kami sebagai mahasiswa yang sedang belajar. Semoga
proses belajar ini dapat terus kami tingkatkan supaya dimensi kami
semakin meninggi dalam rangka membangun hidup kami.
- November 22, 2011 6:29 PM
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas IV: Memandang Wajah Rasulullah
Setiap
hari kita tentu melakukan kesalahan yang bisa jadi merusak iman dan amal
kita yang kita lakukan sepanjang waktu. Untuk itulah syahadat kita
perlu diperbaiki sepanjang waktu, salah satunya melalui shalat-shalat
yang kita lakukan. Syahadat kita minimal diperbaiki 5 kali sehari
melalui shalat wajib. Dengan mengulang kembali syahadat itu tentunya
menjadi renungan bagi kita untuk kembali pada fitrahnya manusia
diciptakan, yaitu semata-mata untuk beribadah pada Alloh SWT. Tiada yang
lain selain iman dan amal kita yang akan dipertanggungjawabkan setelah
kelak kita dipanggil oleh Alloh SWT. Dan tak lain dan tak bukan hanyalah
syafaat Nabi Muhammad SAW-lah yang kita harapkan di akhirat kelak. Kita
semua pasti berdoa supaya masuk dalam golongan orang-orang yang
mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW. Sholawat serta salam selalu kita
panjatkan agar kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung
mendapat melihat Rosululloh sekaligus mendapatkan syafaatnya. Semoga
Alloh SWT meridhoi ibadah kita semua. Amin.
October 27, 2011 9:40 PM
Comment pada: Elegi Bagawat Selatan Mengaji Jalaliyyah dan Jamaliyyah Wujud Allah
Alloh
Sang Maha Sempurna memiliki sifat penyayang dan pengampun, tetapi juga
siksanya amatlah pedih. Semoga dengan selalu menyadari hal tersebut,
kita senantiasa lebih memperbanyak amal kita juga memperkuat iman kita,
dan meminimalisir khilaf dan dosa-dosa. Smoga Alloh selalu memberikan
ampunan sekaligus hidayahNya kepada kita semua. Amin.
October 28, 2011 9:22 PM
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas IV: Menemukan Ruh
Cahaya
Nabi Muhammad adalah cahaya yang akan selalu dinantikan oleh umatnya di
dunia maupun di akhirat. Smoga kita sebagai umatnya tak pernah lupa
untuk memanjatkan sholawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW.
Sehingga kita masuk ke dalam golongan yang beruntung, yaitu mendapat
syafa'at dari Beliau. Amin.
October 28, 2011 9:31 PM
Comment pada: Elegi Menyesali Rumahku Yang Terlalu Besar
Jaman
sekarang ini, sudah banyak sekali negara-negara maju dengan orang-orang
cerdas yang melimpah ruah. Orang-orang yang menyebut dirinya sebagai
orang modern yang perlahan tapi pasti mulai meninggalkan sisi
tradisional yaitu ibadah atau agama. Orang-orang banyak yang mulai
meninggalkan sisi akherat dan lebih menikmati hal-hal yang bernuansa
duniawi. Bahkan tak sedikit pula yang menjadikan gamanya hanya sebagai
pelengkap di identitas saja. Semoga kita tidak menjadi bagian di
dalamnya. Amin.
October 28, 2011 9:57 PM
Comment pada: Elegi Silaturahim Matematika
Matematika
1 sampai 21 menjelaskan matematika ke atas yang mungkin hanya dapat
dipahami oleh ahli matematika. Tetapi bagimana matematika itu dipandang
ke bawah? Maksudnya, bagaimana siswa harus memandang matematika?
bagimana seharusnya siswa menyikapi matematika?
October 28, 2011 10:12 PM
Comment pada: Elegi Pemberontakan Para Logos
Kita
seharunya tidak pernah berhenti untuk menggapai logos. Karena manusia
diciptakan dengan dibekali akal dan hati. Akal berasal dari otak yang
mana memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Belum ada teknologi yang
mampu menandingi kemampuan otak yang sesungguhnya. Hanya saja
kebanyakan diantara kita semua malas untuk mengembangkan kemampuan
tersebut. Kita juga dibekali hati dimana hati tersebut menjadi batas
pikiran kita. Ketika kita mengembarakan pikiran terlalu jauh maka
perlulah kita memiliki komandan dalam pikiran kita yaitu hati. Masih
banyak yang yang belum kita ketahui, dan masih banyak ilmu pengetahuan
yang belum kita sentuh. Hal tersebut seharusnya menjadi motivasi untuk
terus berpikir dan memberdayakan pikiran sehingga kita tidak berlaku
sombong dan jelas akan segala sesuatu.
October 28, 2011 10:54 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Dasar Gunung Es
Selama
ini mungkin matematika hanya dipelajari puncaknya saja oleh siswa.
Padahal hakekat pengetahuan yang sesungguhnya itu adalah jauh di dalam.
Matematika seringkali masih diberikan dalam bentuk jadi oleh guru.
Padahal belajar sesungguhnya adalah kegiatan mental maupun fisik yang
dilakukan oleh siswa itu sendiri sehingga diharapkan siswa menggapai
pengetahuannya masing-masing. Pembelajaran matematika yang sampai ke
akarnya dengan pendekatan yang membuat siswa tertarik dan merasa senang
akan menjadikan matematika itu sendiri lebih bermakna bagi siswa. Hasil
belajarnya dapat ditunjukkan dengan rasa senangnya pada matematika,
mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan juga sikap-sikap
positif lainnya. Hal tersebut sudah dimulai dengan RME atau PMRI dimana
siswa belajar sampai ke 'dasar laut' sehingga menemukan 'puncak gunung
es' itu yang ternyata justru di 'dalam laut'.
October 28, 2011 10:45 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Ramai
Menggapai
ramai dalam hati kita ditunjukkan melalui dzikir yang kita lakukan
setiap saat semata-mata melantunkan pujian-pujian indah untuk Sang
Pencipta. Namun, ternyata apa yang kita lafalkan belumlah sebanding
dengan dzikir yang dilakukan oleh gunung-gunung, lautan, burung-burung,
dsb. Alloh Maha Mendengar. Maka, selirih apapun suara yang kita
panjatkan untukNya pasti Alloh mendengarnya. Maka kita tidak boleh bosan
dan berhenti untuk berdzikir baik dengan mulut kita maupun dalam hati
kita.
October 29, 2011 10:46 AM
Comment pada: Elegi Bagaimana Matematikawan Dapat Mengusir Syaitan?
Syaitan
sudah kodratnya untuk menggoda manusia untuk dapat menjadi pengikutnya.
Manusia yang tidak mengasah akal dan hatinya bisa dengan mudahnya
terbujuk oleh rayuan syaitan. Tetapi, manusia yang mengasah akal juga
hatinya insyaAlloh tidak akan mudah untuk tergoda. Akal kita dapat
digunakan untuk menerjemahkan segala hal yang ada dan yang mungkin ada,
termasuk ilmu pengetahuan dan untuk apa pengetahuan tersebut.
Pengetahuan tidak hanya mengenai matematika, tapi segala sesuatu yang
sangat luas cakupannya. Tetapi akal tersebut perlu diperkuat dengan
hati. Karena dengan hati tersebutlah yang menjaga kita untuk tetap
berada pada jalur yang benar. Semoga Alloh SWT senantiasa menguatkan
akal kita sekaligus hati kita. Amin.
October 28, 2011 11:11 PM
Comment pada: Elegi Seorang Hamba Menggapai Ruang dan Waktu
Sadar
akan ruang dan waktu sangat sulit kita gapai kalau hati kita tidak
ikhlas untuk menyadarinya. Memposisikan diri sesuai dengan ruang dan
waktu sangat penting dan fundamental bagi kita. Ketidaksantunan kita
akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Seorang pegawai yang tak
sadar ruang dan waktu tentunya akan membuat atasannya marah besar.
Seorang anak yang tak santun pada orang tuanya menyebabkan orang tuanya
murka. Apalagi Tuhan. Hamba yang tak sadar pada ruang dan waktunya tidak
akan mendapat ridho dariNya. Maka kita perlu senantiasa memperbaiki
ikhlas kita untuk sadar akan ruang dan waktu.
October 29, 2011 10:34 AM
Comment pada: Elegi Ritual IKhlas IV: Bermunajat Kepada Allah SWT
Ya
Alloh..setelah membaca elegi ini, hamba sangat menyadari betapa banyak
dan luas dosa-dosa hamba..seluas samudra yang membentang di belahan
dunia dan seluas pasir yang bertebaran di pantai..apalah daya dan
upayaku untuk menebusnya menjadi kumpulan pahala..hamba hanya mampu
untuk memohon ampun atas semua dosa-doa hamba tersebut..tak ada daya
pula hamba memohon ampun tanpa ridhoMu Ya Alloh..walaupun begitu, hamba
seringkali terlalu banyak meminta segala kebaikan
kepadaMu..sesungguhnya, hanya padaMu lah hamba menyembah, dan hanya
padaMulah hamba meminta pertolongan..maka kabulkan doa-doa hamba dan
juga doa dari guru hamba pada elegi ini Ya Alloh..Amin..
November 21, 2011 9:15 PM
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas III: Menggapai Keutamaan Dzikir
Berdzikir
adalah mengingat Alloh. Dengan berusaha berdzikir atau mengingat Alloh
insyaalloh pikiran, ucapan, perbuatan, dsb akan selalu pada rambu-rambu
yang diatur oleh Alloh. Tujuan manusia diciptakan semata-mata hanya
untuk beribadah padaNya. Oleh karena itu, apa yang kita lakukan di dunia
sudah seharusnyalah diniatkan untuk menggapai ridhoNya. Perbuatan dan
ucapan yang kita niatkan untuk Alloh maka terdapat nilai ibadah di
dalamnya. Bahkan ketika kita tidur sekalipun. Semoga Alloh senantiasa
memberikan hidayahNya kepada kita untuk senantiasa memperbaiki niat kita
dalam menjalani hidup ini juga senantiasa mampu membasahi bibir kita
dengan lafaz dzikir setiap waktu. Amin.
November 21, 2011 9:35 PM
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas III: Tata Cara atau Adabnya Orang Berdoa
Berdoa
adalah komunikasi kita kepada Alloh. Ketika berkomunikasi dengan Alloh
tentunya ada banyak hal yang perlu kita perhatikan. Seperti halnya
ketika akan berkomunikasi dengan atasan, kita berpakaian sangat rapi,
menggunakan wewangian, berkaca berkali-kali, menyiapkan kata-kata apa
yang akan disampaikan, dsb. Berdoa itu berkomunikasi dengan Sang Pemberi
Hidup. Tentunya harus lebih dari sekedar menyiapkan kata-kata, lebih
dari sekedar berpakaian yang rapi, lebih dari sekedar menggunakan
wewangian, dll. Kita harus bersungguh-sungguh ketika berdoa; mengucapkan
dengan lirih; menghayati apa yang kita panjatkan; memanjatkan doa yang
terbaik bagi kaum muslim, keluarga, dan baru diri sendiri; doa yang
diucapkan juga harus spesifik; berkeyakinan bahwa Alloh akan
mengabulkan; tidak berlebihan, dll. Alloh selalu mendengar apa yang kita
ucapkan, dalam hati sekalipun. Biasanya kita lebih mudah memanjatkan
doa dengan penuh keikhlasan ketika mendapatkan kesusahan atau musibah,
tetapi ketika kita mendapat kebahagian sangat kecil bentuk syukur kita
dan bahkan ada yang lupa untuk kembali berdoa. Semoga Alloh selalu
menjauhkan kesombongan yang ada dalam hati kita itu. Amin.
November 21, 2011 10:05 PM
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas III: Persiapan Teknis
-
Ketika akan beribadah, apapun bentuknya, kita perlu dalam keadaan hati
yang suci, jiwa yang suci, dan raga yang suci. Ketika kita dalam keadaan
kotor maka kita diwajibkan untuk membersihkan diri. Menghadap Sang
Khalik kita tidak perlu membawa harta kita yang melimpah, pengetahuan
kita yang luas, jabatan kita yang tinggi, dan sebagainya, karena semua
itu tak akan berarti bagi Alloh bila kita tidak memiliki iman dan amal
yang cukup. Ketika beribadah justru kita harus merasa bahwa kita
bukanlah apa-apa dimata Alloh, sehingga dapat mendorong kita untuk lebih
khusyuk dalam beribadah. Kita juga harus terus memperbaiki ibadah kita
untuk meningkatkan kualitas ibadah kita. Semoga Alloh meridhoi ibadah
yang kita lakukan dan akan kita lakukan.
- November 22, 2011 7:19 PM
Comment pada: Elegi Ritual Ikhlas II: Memahami makna Taubat dan bertobat Nasuhah.
-
Kita tidak akan pernah benar-benar tau seberapa banyak dosa yang telah
kita tumpuk, dan kita juga sering tidak menyadari bahwa yang telah kita
lakukan adalah sebuah dosa kecuali kita telah memiliki pengetahuan akan
hal tersebut. Maka perlu untuk terus banyak belajar dan mencari tau
apa-apa saja yang menyebabkan kita berdosa. Dan kita perlu untuk peka
terhadap apa yang telah kita lakukan dan jangan menunda untuk
beristighfar atas kesalahan yang kita lakukan. Hanya Alloh yang tau
seberapa sungguh kah kita menghindari dosa dan bertaubat akan dosa yang
telah kita lakukan. Semoga Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun
senantiasa membukakan pintu maafNya bagi kita semua. amin.
- November 22, 2011 7:34 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Bahasa
Bahasa
adalah sebuah media berkomunikasi antara objek yang satu dengan obyek
yang lain. Dengan bahasa ini kita mampu mengerti dan memahami lawab
bicara. Dengan bahasa pulalah semua hal menjadi lebih jelas atau justru
lebih sulit dipahami. Dalam bahasa ada kata yang ambigu, ada kata yang
menjadi perumpaan, ada kata yang menjadikan lebih halus, ada yang justru
menjadikan bermakna lebih rendah dari yang seharusnya, dsb. Dengan
mampu berbahasa yang baik, kita seharusnya juga mampu untuk
menerjemahkan dan diterjemahkan. Tidak hanya antara manusia saja bahasa
tersebut digunakan. Namun, gunung-gunung pun berbasaha dengan gemuruh
magmanya, rumput-rumput membahasakan dirinya dengan bergoyang tanda ia
sedang senang, hewan-hewan yang menjerit ketika disiksa oleh manusia,
dan bahasa tangisan hewan-hewan qurban tanda ikhlasnya, dll. Bahasa
tidak hanya yang diucapkan, tetapi juga yang bergerak atau bahasa tubuh,
juga yang ada dalam hati yaitu bahasa kalbu. Dan hanya Alloh lah yang
Maha mengetahui bahasa kalbu kita masing-masing.
October 29, 2011 12:19 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Tidak Risau
Kerisauan
bisa terjadi kapan saja pada diri manusia. Maka ketenangan jiwa lah
yang manusia coba untuk digapai. Untuk mencapai ketenangan jiwa bukanlah
hal yang mudah, karena pada dasarnya kita selalu menghadapi banyak hal
'memaksa' kita menjadi risau. Namun, dengan menyadari bahwa hanya Alloh
lah tempat kita meminta pertolongan dan hanya Dialah pemiliki atas semua
hal yang merisaukan sekaligus solusinya, maka tidak ada yang perlu lagi
untuk kita risaukan. Mendekatkan diri padaNya dan selalu meminta
pertolongan padaNya, niscaya kita akan menjadi manusia dengan jiwa yang
tenang. Amin.
October 30, 2011 10:50 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Paradoks Tukang Cukur
Tukang
cukur yang hanya mencukur orang yang tidak mencukur sendiri. Kalau
tukang cukur sendiri itu mencukur dirinya sendiri maka dia telah
termakan oleh mitosnya sendiri. Tetapi siapa yang akan mencukurkannya?
apakah tukang cukur yang lain? lalu bagaimana kalau tukang cukur itu
hanya satu-satunya tukang cukur? Mungkin ia seharusnya membiarkan
rambutnya panjang tanpa dicukur, atau dengan sangat terpaksa ia mencukur
rambutnya sendiri. Ketika menghadapi permasalahan prinsip hidup kita
terbentur oleh keadaan-keadaan yang tidak sesuai dengan prinsip awal
kita, itu menjadi dilema besar dalam hidup. Tetapi, yakinlah bahwa Tuhan
selalu memberikan masalah sepaket dengan penyelesaiannya, tinggal
bagaimana manusia itu menerima paketan itu.
October 19, 2011 9:02 PM
Comment pada: Elegi Hamba Menggapai Wadah dan Isi
Wadah dan
isi menurut saya berjalan beriringan. Ketika wadahnya semakin besar
maka isinya pun harus terus ditambah agar seimbang. Ketika isinya besar
maka membutuhkan wadah yang semakin besar pula. Ketika seorang guru atau
dosen memiliki rasa tanggung jawab yang besar, secara otomatis ia harus
terus meningkatkan kompetensinya yang meliputi kompetensi pedagogis,
sosial, profesional, dan kepribadiannya. Tetapi, tentunya itu semua
tergantung dengan niat masing-masing pribadi. Ketika sudah bergelar
magister atau bahkan doktor tapi ia tidak mengembangkan kompetensinya
sehingga hanya seperti sarjana sungguh sangat disayangkan. Kesadaran
untuk terus mengembangkan diri sangat penting bagi siapa saja dengan
profesi atau peran apa saja. Karena dengan kesadaran itulah yang akan
mendorongnya untuk terus mengembangkan diri menjadi lebih baik, dan
memiliki kompetensi untuk menjalankan peran di bidang masing-masing
sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. Selain itu, kesadaran
akan tanggung jawab terhadap perannya akan mendorongnya untuk
melakukannya dengan cara yang baik dan benar bukan dengan cara-cara
licik yang justru menyesatkan baginya.
October 19, 2011 9:52 PM
Comment pada: Elegi Obrolan Filsafat
Saya
sangat terkesan dengan percakapan mengenai sepuluh dibagi tak terhingga
maka diampuni dosamu dan seratus pangkat nol maka akan sampai pada
Tuhamu. Sungguh betapa Maha Baik Tuhan kepada hambanya yang penuh dosa.
berapapun banyak dosanya, ketika ia sungguh-sungguh untuk bertaubat dan
memperbaiki kesalahannya maka Alloh SWT akan mengampuni dosa-dosanya.
Dan betapa butuh perjuangan yang hebat untuk membuat diri kita menjadi 0
(ikhlas). Karena untuk mencapai ikhlas itu sendiri bukan sesuatu yang
mudah. Ketika masih bisa mengatakan 'ikhlas' maka sesungguhnya ia
benar-benar belum ikhlas. Maka hanya Alloh lah yang akan memberi kita
semua petunjuk dan hidayah untuk mencapai ridhoNya.
October 19, 2011 10:27 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Bicara
Andai
kita dapat memahami bahasa-bahasa dari semua obyek yang ada dan yang
mungkin ada mungkin kehidupan di dunia ini akan lebih harmoni. Manusia
akan lebih bijak memperlakukan alam yang selama ini telah berbicara
melalui gempa, tanah longsor, banjir, dsb. Pemimpin-pemimpin di seluruh
negeri lebih bijak dalam mensejahterakan rakyat yang sedang dipimpinnya
maka tiada lagi perang saudara, kelaparan, kemiskinan, demonstrasi
membabibuta, korupsi, dsb. Guru akan lebih banyak memberi kesempatan
kepada siswa-siswanya untuk mendapatkan ilmunya dan dunianya dalam
belajar maka tidak ada lagi perdebatan sengit tentang UN yang tiada
habisnya, tidak ada lagi kasus contek masal, siswa tidak naek kelas,
putus sekolah, dsb. Sayangnya pikiran-pikiran yang menjadi batas dari
bahasa-bahasa tersebut terlalu terbatas untuk dapat memahami
fenomena-fenomena yang ada yang mungkin ada.
October 22, 2011 10:05 PM
Comment pada: Elegi Obrolan Filsafat ke Dua
Apalah
arti sebuah nama, karena ia hanyalah sebuah label semata. Segala sifat
yang melekat pada diri dapat berubah. Sifat-sifat tersebut juga sangat
relatif. Ketika kita berbuat sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu
orang lain akan menerima maksud baik kita, atau berpikir yang
sebaliknya dengan yang kita pikirkan sebenarnya. Untuk itu, kita sangat
perlu sekali membuka mata dan hati atas apa yang akan kita lakukan dan
pikirkan, serta apa yang mungkin orang lain pikirkan dan lakukan. Selama
semua itu bersifat membangun diri menjadi lebih baik tidak ada salahnya
untuk memperbaiki diri.
October 22, 2011 10:21 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Sepi
Menggapai
sepi bukanlah hal yang mudah dilakukan. Dalam keadaan sekeliling yang
sepi masih saja pikiran kita bergejolak. Pikiran mulai diam tapi batin
masih saja saling berdebat. Ketika semuanya mulai diam namun aliran
darah dan organ-organ yang lain masih saja terus bekerja. Menggapai sepi
sesugguhnya adalah semata-semata berkomunikasi kepada Sang Kholik.
Berbicara dan memohon seolah Alloh ada di depan kita. Bersujud memohon
segala ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan. Sesungguhnya manusia
bukanlah apa-apa di mataNya tanpa iman dan takwa. Dan sia-sialah iman
dan takwa selama masih saja ada ke-aku-an dalam diri kita.
Astaghfirulloh. Ya Alloh hanya Engkau lah yang Maha Mengetahui dan Maha
Pengampun.
October 22, 2011 10:40 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Hakekat Senin
Begitu
banyak makna dari senin. Pada senin yang sama mungkin bisa dirasakan
berbeda oleh setiap orang. Ada yang membenci senin karena awal minggu
depan pekerjaan yang berat. Ada yang bahagia karena hari-hari penuh
semangat setelah menikmati akhir pekan. Begitu banyak persepsi dan
kemungkinan mengenai segala hal, sekalipun itu hal yang sangat sepele.
Sehingga kita harus belajar bagaimana menerjemahkan dan diterjemahkan
segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini.
October 22, 2011 10:54 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Karakter
Ketika
menghadapi ilmu baru, tentunya diperlukan adanya kesadaran akan
kebutuhan untuk menerima ilmu tersebut. Kesadaran untuk membutuhkan ilmu
itulah kunci awal untuk sikap-sikap positif lainnya. Pendidikan kita
selama ini masih mewajibkan siswa untuk belajar. Tanpa siswa menyadari
seberapa butuhkah pendidikannya. Ketika pendidikan hanyalah sebuah
kewajiban, maka ketika siswa datang ke sekolah maka kewajibannya sudah
terlaksana. Tapi apakah ia akan ia dapatkan dari sekedar datang ke
sekolah. Tidak ada sama sekali. Lain halnya kalau kita mulai memberi
siswa kesempatan untuk menyadari seberapa pentingkah ia untuk belajar,
bekerja sama dengan temannya, berkomunikasi dengan siapa saja, seberapa
bermanfaat ilmu yang ia pelajari di kehidupannya saat ini maupun esok.
Ketika kesadaran akan belajar ada pada siswa, dan guru memberi
kesempatan untuk mengakomodasi seluruh kegiatan positif yang ingin
dilakukan siswa dalam belajar maka pendidikan itu akan lebih bermakna
bagi siswa.
October 22, 2011 11:25 PM
Comment pada: Elegi Pemberontakan Para Logos
Banyak
manusia modern saat ini yang dikaruniai pemikiran yang cemerlang.
Mereka mampu mengembangkan kemampuan otaknya melebihi kemampuan orang
pada umumnya. Mereka mampu memikirkan sesuatu yang tidak biasa
dipikirkan orang lain. Mereka mampu menciptakan beberapa hal yang sangat
menakjubkan. Namun sayang banyak diantara mereka yang hanya sibuk
mengembangkan otaknya tetapi tidak mengembangkan hatinya. Beberapa
diantara bahkan tidak beriman. Mereka yang tidak percaya adanya Tuhan
seringkali ingin berusaha menciptakan segala sesuatu yang mampu Tuhan
ciptakan. Misalnya saja dikembangkan bayi tabung, kloning, robot,mesin
waktu (dalam proses pengerjaan), dsb yang menunjukkan betapa sombongnya
mereka dalam proses penciptaan manusia dan alam semesta. Namun mereka
lupa, bahwa itu tidaklah mungkin terjadi tanpa kehendak Yang Maha Kuasa.
Tuhan tidak akan pernah kalah oleh makhluk ciptaannya karena
kekuatannya Tuhan itu absolut. Manusia mungkin bisa menjadi manusia
paling cerdas dan paling canggih sekalipun, tetapi sesungguhnya Tuhan
melebihi dari semua itu. Semoga Alloh mengampuni keangguhan kita semua
selama ini. Amin.
October 23, 2011 6:48 AM
Comment pada: Elegi Menggapai Rumah Paradoks
Dalam
elegi ini yang saya pahami sangat sulit menjadi diri sendiri ketika
keadaan memaksa kita untuk menjadi orang lain. Apa yang kita inginkan,
lakukan, harapkan, dll bertentangan dengan keadaan yang ada. Ketika kita
memaksakan kehendak kita maka lingkungan tidak lagi membiarkan kita
menjadi anggotanya. Namun, ketika memilih menjadi bagian darinya, itu
bertentangan dengan nurani kita, tetapi juga belum tentu lingkungan akan
menerima kita selamanya. Betapa sulitnya menggapai jati diri.
October 23, 2011 7:00 AM
Comment pada: Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan
Pembelajaran
matematika yang sesungguhnya adalah bagaimana siswa belajar dengan
merasakan pengalaman menyentuh matematika sendiri. Pembelajaran
matematika bukanlah apa yang yang diberikan kepada siswa, bukan apa yang
guru lakukan, bukan materi apa yang diajarkan oleh guru kepada siswa.
Pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk berpikir sesuai
dengan kemampuannya, menyelesaikan masalah dengan dimulai dengan
mengenal masalah itu sendiri, mengembangkan pikiran yang konvergen
maupun divergen, mengakomodasi siswa untuk merasakan apa itu matematika
dan untuk apa itu matematika akan menjadikan pembelajaran itu bermakna
bagi siswa. Siswa bebas berpendapat, bebas memberi jawaban
masalah-masalah terbuka, bebas mengembangkan cara-cara yang mampu
dipikirkannya, dsb. Dengan menjadikan pembelajaran tersebut menyenangkan
bagi siswa, saya yakin matematika tidak lagi menjadi momok bagi siswa.
October 23, 2011 7:17 AM
Comment pada: Elegi Menggapai Bijak
Bijak
dalam filsafat Barat identik dengan ilmu pengetahuan, sedangkan filsafat
timur bijak identik dengan memberi. Dalam hal pengetahuan, interaksi
antara keduanya mungkin bijak bisa diartikan orang yang mencari ilmu
pengetauan yang luas dan mendalam kemudian memberikannya untuk orang
lain. Tidak mudah memberi ilmu kepada orang lain karena bisa jadi orang
lain tidak mengerti tentang apa yang kita bicarakan, tentang apa yang
kita pikirkan, tentang apa yang kita tulis, dsb. Maka penting adanya
kemampuan berkomunikasi yang baik sehingga ilmu yang kita mil;iki dapat
tersampikan dan dimengeti dengan baik oleh orang lain.
October 23, 2011 7:32 AM
Comment pada: Elegi Menggapai Pikiran Ikhlas
Ikhlas
dalam pikir berarti terus mendorong pikirannya untuk berpikir. Membangun
pikiran bisa dimulai dengan membangun pertanyaan. Ketika semua hal kita
pertanyakan, maka kita akan terus termotivasi untuk mencari jawabannya.
Pertanyaan awal dimulai dari hal-hal yang kita sama sekali belum tau,
lalu ketika mencari jawabannya maka akan ada pertanyaan-pertanyaan
lanjutan. Proses menemukan ilmu ini seharusnya tidak akan pernah
berhenti kecuali kita telah mati. Karena mencari ilmu (apapun itu)
dimulai dari kita lahir sampai mati. Alangkah sayang sekali apabila
kemampuan otak kita yang sangat luar biasa tidak diasah dan diolah untuk
pengembangan kemampuan-kemampuan kita yang lainnya.
October 27, 2011 8:07 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Pondamen
Mendasarkan
segala sesuatu yang akan kita lakukan atau telah kita lakukan itu
penting. Karena dengan begitulah kita menyadari apa yang akan kita
lakukan ataupun yang telah kita lakukan. Kesadaran itulah yang
menjadikan segala sesuatu itu menjadi lebih bermakna. Awal dari sesuatu
bisa jadi memiliki awal yang terjadi lebih dahulu karena semuanya
berjalan sesuai dengan waktunya. Namun, kita tidak akan bisa menggapai
awal yang telah berlalu, yang kita dapat gapai adalah awal dari apa yang
akan terjadi selanjutnya.
October 27, 2011 8:23 PM
Comment pada: Elegi Menggapai fungsi f(x) = 1
fungsi
f(x) = 1 menurut saya bermakna bahwa semua hal yang kita lakukan atau
pikirkan di dunia ini semata-mata hanya mengharapkan ridho dari Alloh
SWT. Namun, pada kenyataanya variabel x akan memiliki isi yang
berbeda-beda pada setiap manusia. Entah itu diisi oleh kebaikan ataupun
sebaliknya. Sesungguhnya perlu disadari bahwa nantinya kita semua akan
kembali padaNya sehingga haruslah kita senantiasa mengisi variabel x
tersebut atau kehidupkan kita ini dengan hal-hal yang baik.
Adapun cara-cara yang dapat kita lakukan untuk mendapat bilangan 1 atau bisa diartikan keridhoaanNya adalah dengan senantiasa mengasah keimanan dan ketakwaan kita sebagai hamba Alloh SWT. Mencoba untuk terus menjalankan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa saja yang dilarang olehNya. Hal tersebut mungkin tidak selalu menjadi mudah karena manusia juga dilengkapi dengan nafsu. Sehingga mudah saja bagiNya untuk meninggalkan kebenaran kalau tidak kuat imannya.
Dengan menyadari bahwa semua hal yang kita pikirkan dan perbuat akan menjadi tolak ukur kita di dunia maupun diakherat akan bermanfaat bagi kita untuk terus terpacu memperbaiki diri. Karena kita akan termasuk golongan orang-orang yang merugi apabila hari ini lebih buruk dari hari kemarin. September 19, 2011 10:56 AM
Adapun cara-cara yang dapat kita lakukan untuk mendapat bilangan 1 atau bisa diartikan keridhoaanNya adalah dengan senantiasa mengasah keimanan dan ketakwaan kita sebagai hamba Alloh SWT. Mencoba untuk terus menjalankan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa saja yang dilarang olehNya. Hal tersebut mungkin tidak selalu menjadi mudah karena manusia juga dilengkapi dengan nafsu. Sehingga mudah saja bagiNya untuk meninggalkan kebenaran kalau tidak kuat imannya.
Dengan menyadari bahwa semua hal yang kita pikirkan dan perbuat akan menjadi tolak ukur kita di dunia maupun diakherat akan bermanfaat bagi kita untuk terus terpacu memperbaiki diri. Karena kita akan termasuk golongan orang-orang yang merugi apabila hari ini lebih buruk dari hari kemarin. September 19, 2011 10:56 AM
Comment pada: Elegi Pertengkaran Antara Biasa dan Tidak Biasa
-
Biasa dan Tidak Biasa sama pentingnya tergantung apa yang melekat
padanya. Biasa melakukan hal baik dan Tidak Biasa melakukan hal yang
buruk sangat penting dalam kehidupan sehari-hari kita dalam rangka
menggapai Ridho-Nya. Tetapi hal tersebut tidak boleh dibalik menjadi
Biasa melakukan hal yang buruk dan Tidak Biasa melakukan hal baik karena
hal tersebut akan menjadikan hidup kita menjadi sia-sia. Untuk menjadi
Biasa itu sendiri kita memerlukan proses untuk membiasakannya sehingga
menjadi biasa atau terbiasa, misalnya dalam hal beribadah. Mungkin kita
sudah biasa beribadah, tetapi siapa tahu kita tidak biasa untuk
beribadah tepat waktu. Maka perlu adanya proses membiasakan diri untuk
beribadah tepat waktu agar kita menjadi biasa beribadah tepat waktu dan
tidak biasa tidak beribadah tepat waktu. Analog juga dengan hal yang
lain.
- December 12, 2011 10:11 PM
Comment pada: Elegi Sang Bagawat Menggapai Kesempatan
-
Setiap kesempatan dapat disikapi dengan tiga cara yaitu: menerima dan
menjalankan kesempatan itu, memilih untuk tidak menerima kesempatan itu,
atau berdiam saja atas kesempatan tersebut. Setiap kesempatan yang sama
mungkin disikapi berbeda oleh setiap orang. Namun, dalam pembelajaran
di kelas, kesempatan siswa untuk menikmati pembelajaran sangat perlu
untuk diberikan. Betapa indahnya ketika semua siswa tanpa terkecuali
mendapat kesempatan yang sama untuk berpikir, bertanya, berdiskusi,
memanfaatkan fasilitas yang lengkap, guru yang kompeten, dll. Hal
tersebut juga diungkapkan dalam NCTM sebagai gambaran kelas yang ideal.
Pelaksanaannya memang terkadang terganjal oleh beberapa hal. Guru perlu
terus belajar untuk mengatasi hal tersebut sehingga siswa-siswa memiliki
kesempatan yang sama untuk berproses dalam pembelajaran.
- December 12, 2011 9:44 PM
Comment pada: Elegi Pemberontakan Para Beda
-
Setiap ciptaanNya sangatlah unik. Mungkin memang bentuknya, warnanya,
dan jenisnya sama tetapi bisa jadi karakternya berbeda, dll. Seperti
halnya siswa. Semua siswa itu memiliki keunikannya sendiri. Guru tidak
boleh memperlakukan siswa seolah-olah semua siswa itu sama padahal bisa
jadi tingkat intelligensinya berbeda, psikologisnya berbeda, kesiapannya
menerima materi berbeda, informasi yang diperoleh berbeda, tingkat
pemahaman berbeda, dsb. Guru harus peka terhadap hal-hal tersebut.
Seperti pesan dari Dr. Djamilah bahwa guru perlu untuk menajamkan mata
dan hati untuk melihat fenomena-fenomena tersebut. Tidak mudah memang,
tapi bukan berarti tidak bisa dipelajari.
- December 12, 2011 9:12 PM
Comment pada: Elegi Jebakan Filsafat
Ketika
mempelajari filsafat memang mahasiswa banyak yang terjebak mempelajari
filsafat hanya sebagai sebuah kewajiban untuk memenuhi SKS atau sekedar
memperoleh nilai. Tetapi, sebenarnya ketika mempelajari filsafat,
terutama ketika membaca elegi-elegi yang Bapak tulis, justru membuka
pandangan kita jika mahasiswa menyadarinya. Meskipun, kadang saya
pribadi pun salah mengartikan apa yang telah tertulis dalam elegi.
Tetapi sebenarnya ketika saya salah pun saya sudah mencoba untuk
'berfilsafat' yaitu paham fallibsm. Keanekaragaman pemaham terhadap
elegi adalah sebuah proses analogi yang dilakukan sesuai dengan ruang
dan waktunya. Setiap orang akan memiliki pandangan yang berbeda tapi itu
semata-mata sebagai bentuk dari pengembangan 'ilmu' yang telah
terbentuk pada masing-masing sesuai dengan kemampuannya menyadari
dimensi.
October 3, 2011 7:17 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Pikiran Jernih
Ketika
kita berhenti untuk mempertanyakan pada diri kita sendiri tentang
hal-hal yang ada dan yang mungkin ada maka kita telah tenggelam oleh
mitos. Kita perlu mengembangkan pikiran penasaran sehingga kita tidak
berhenti untuk bertanya dan mencari jawabannya. Seperti Rene Descartes
yang bertanya untuk berpikir. Tetapi, akan sangat sia-sia ketika kita
hanya bertanya tanpa mencari jawaban dari pertanyaan kita tersebut.
October 3, 2011 7:03 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Awal dan Akhir
Saya
sangat kagum ketika membaca para ilmuwan atau para ahli bisa menemukan
atau menciptakan sebuah teori-teori yang belum pernah terpikirkan oleh
orang lain. Kemudian melakukan penelitian-penelitian yang membuat
pikirannya mengembara jauh untuk membuktikan teori yang telah ia buat.
Saya sendiri belum pernah mencoba untuk memikirkan hal-hal diluar
jangkauan pemikiran saya karena merasa belum mampu dan siap untuk itu.
Seperti Imanuel Kant yang mengembarakan pemikirannya sampai pada batas
tertentu yang akhirnya meyakini bahwa pemikiran manusia itu terbatas.
Alloh SWT menciptakan misteri-misteri yang beberapa diantaranya cukup
untuk kita yakini. Karena kita memang tidak akan mampu menjangkau
misteri-misteri tersebut sebagai bukti bahwa yang memiliki kausa utama
hanyalah Alloh SWT
October 19, 2011 8:07 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Awal dan Akhir Kedua
Ketika
Tuhan menciptakan kita, memberi ijin bagi kita untuk lahir ke dunia,
maka itulah awal dari kehidupan kita di dunia ini. Tetapi kita memiliki
janji sebelum kita benar dilahirkan yang akan dimintai 'tagihan'nya
kelak. Kemudian ketika kita mati, itu adalah sebuah akhir hidup kita di
dunia, tetapi sekaligus menjadi awal bagi kehidupan abadi kita dimana
kita akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat di antara
awal dan akhir kita di dunia tersebut. Sesungguhnya awal dan akhir kita
hanyalah untukNya, maka perlulah kita menghiasi antara awal dan akhir
kita dengan hal-hal yang sesuai dengan RidhoNya.
October 19, 2011 7:48 PM
Comment pada: Elegi Menggapai Awal
Saya
setuju dengan comment Bapak bahwa awal dan akhir berjalan beriringan
terhadap kejadian yang terjadi. Ketika kita mati itu adalah akhir kita
di dunia, tetapi itu adalah awal dari kehidupan kita yang abadi
nantinya. Ketika malam berakhir maka menjadi awal bagi pagi, dan
seterusnya. Dengan menyadari bahwa ada awal dan ada akhir kita perlu
menjalankan hidup kita ini dengan sebaik-baiknya, karena waktu tidak
akan pernah terulang kembali.
October 19, 2011 7:29 PM
Comment pada: Elegi Perbincangan Para Banyak
Ketika
membaca uraian dari satu, dua, tiga, empat dan lima saya mengira itu
adalah kontradiksi, tetapi setelah membaca penjelasan dari para banyak
saya menangkap bahwa ketika melihat segala obyek yang ada dan yang
mungkin ada perlulah melihat dari berbagai sudut pandang. Hidup yang
mati, mungkin penjelasannya adalah seseorang yang sudah tidak lagi
berusaha, tidak lagi berkarya, sudah merasa jelas atas segala sesuatu,
dan yang lainnya. Sebaliknya mati yang hidup, bisa dijelaskan bahwa
seseorang yang hanya jasadnya yang mati, tetapi pemikirannya, karyanya,
ajarannya masih terus dipergunakan dan memberi manfaat bagi orang lain.
Begitu juga dengan pernyataan para banyak yang lainnya.
October 19, 2011 7:18 PM
Comment pada: Elegi Perbincangan Para Sama
Yang
terlihat sama sebenarnya adalah relatif sama. Siswa di satu sekolah
misalnya sekolah favorit A dianggap semua kemampuannya sama, padahal
meskipun semuanya pintar secara akademis belum tentu mereka benar-benar
sama dalam berpikir, cara belajar, dll. Kita tidak dapat menggap semua
siswa memiliki kemampuan yang sama dan kebutuhan yang sama pula karena
pada dasarnya hati kecil mereka bisa jadi menginginkan atau mengharapkan
hal yang berbeda. Dengan menyadari bahwa segala sesuatu yang sama itu
relatif, kita akan belajar lebih bijak ketika akan melakukan segala
sesuatu, terutama ketika berperan sebagai seorang guru.
October 19, 2011 7:03 PM
Comment pada: Elegi Perbincangan Para Tepat
Semua
yang ada di dunia ini bersifat relatif. Ketika kita melakukan sesuatu
yang menurut kita tepat belum tentu bagi orang lain demikian, dan
seterusnya. Ketika kita melakukan kekeliruan ya memang itulah khilaf
kita sebagai manusia yang terbatas. Bila kita ingin melakukan hal yang
tepat, maka apa yang kita pikirkan, lakukan, katakan, tuliskan, dll
haruslah kembali padaNya.
October 19, 2011 6:48 PM
Comment pada: Elegi Konferensi Para Beda
Sebelum
mengajar di kelas atau dimapun, saya rasa semua guru perlu menghayati
hakekat beda ini. Karena kita tidak dapat mengganggap bahwa semua siswa
itu tidak berbeda atau sama. Setiap siswa memiliki karakter yang
berbeda, latar belakang keluarga yang berbeda, kondisi psikologis yang
berbeda, kemampuan berpikir yang berbeda, metode eljar yang berbeda,
dll. Sehingga ketika guru memaksakan diri untuk merapkan metode tertentu
ketika mengajar kepada siswa itu juga akan memaksakan bahwa siswa itu
sama. Tidak semua siswa cocok denganmetode tertentu, suka dengan cara
tertentu, berpikir dan memikirkan hal yang sama, mempersepsikan suatu
hal dengan sudut pandang yang sama. Hal tersebut akan terjadi accident
atau guru menutup sifat-sifat yang ada pada siswa, dan itu sangat
berbahaya bagi siswa itu sendiri. Tetapi, masalah yang besar adalah
bagaimana membangun pembelajaran yang dapat mengakomodasi itu
semua?itulah PR bagi kita semua.
October 19, 2011 12:52 PM
Comment pada: Elegi Konferensi Para Keliru
Membaca
uraian mengenai kekeliruan-kekeliruan yang mungkin dapat terjadi
menyadarkan kita semua bahwa tidak ada manusia yang bisa lepas dari
kekeliruan. Bahkan dalam iman pun pasti terkadang terjadi kekeliruan.
Yang dapat kita lakukan hanyalah selalu berikhtiar dan mendekatkan diri
pada Sang Maha Benar. Memperbaiki diri setiap waktu akan menjadikan
kita jauh lebih baik dari sebelumnya.
October 19, 2011 12:41 PM
Comment pada: Elegi Konferensi Kebenaran
-
kebenaran akhir-akhir ini nampaknya sangat sulit untuk diungkap atau
diungkapkan. Melihat fenomena yang ada di televisi membuat saya yakin
bahwa kebenaran yang sesungguhnya hanya Alloh lah Yang Maha Tahu dan
Maha Benar. Banyak orang-orang yang memiliki kuasa bertindak
memanfaatkan kuasanya untuk menutupi kebenaran, bahkan orang yang
berilmu memanfaatkan keilmuannya untuk memutar balikkan fakta. Hal
tersebut terjadi dalam hampir setiap bidang. Bidang politik misalnya
tentang para koruptor dll. Bidang pendidikan misalnya guru yang
memanipulasi rapor siswa agar siswanya lulus. Bidang agama misalnya
orang yang mengganggap dirinya berilmu mengambil secuplik-cuplik ayat
untuk ditafsirkan berbeda dan disebarkan pada orang-orang yang baru
belajar agama. dsb.
- December 12, 2011 8:26 PM
Langganan:
Komentar (Atom)