Minggu, 25 Desember 2011

ANTARA SIFAT INDIVIDUALISTIS DAN SIFAT KOOPERATIF DALAM KHASANAH PENGEMBANGAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI)

Oleh:
Nurina Happy
NIM. 11709251047

Abstrak

Pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) berkaitan dengan perspektif yang menekankan kinerja berkualitas, kapasitas inovatif, otonomi, dll. Pembelajaran di kelas perlu didesain agar dapat mengakomodasi pengembangan siswa sesuai yang diharapkan dari adanya pengembangan SBI. Terdapat tiga cara dasar siswa untuk interaksi, yaitu: kompetitif, individualistis, dan kooperatif. Struktur pembelajaran kooperatif adalah stuktur yang diharapkan dapat dikembangkan di sekolah-sekolah bertaraf internasional karena keunggulan-keunggulan yang dimilikinya.
Kata kunci: SBI, struktur pembelajaran


I.    Pendahuluan
Pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) berhubungan erat dengan perspektif global untuk membangun sekolah-sekolah berkinerja tinggi. Perspektif ini menekankan perlunya transformasi sekolah nasional menuju SBI dengan karakteristik otonomi yang lebih luas, kapasitas inovatif, kinerja berkualitas, dan orientasi nilai (Dharma: 2007). Bagaimanakah dengan siswa-siswa dari sekolah bertaraf internasional tersebut? Pembelajaran seperti apa yang mampu mengakomodasi tuntutan tersebut?
Penyelenggaraan SBI didasari filosofi eksistensialisme dan esensialisme (fungsionalisme). Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, pro-perubahan, kreatif, inovatif, dan eksperimentif), menumbuhkan dan mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik (Haryana, 2007).
Filosofi eksistensialisme berpandangan bahwa dalam proses belajar mengajar, peserta didik harus diberi perlakuan secara maksimal untuk mengaktualkan, mengeksiskan, menyalurkan semua potensinya, baik potensi (kompetensi) intelektual (IQ), emosional (EQ), dan Spiritual (SQ). Filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi dan relevan dengan kebutuhan, baik kebutuhan individu, keluarga, maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub-sub sektornya, baik lokal, nasional, maupun internasional. Terkait dengan tuntutan globalisasi, pendidikan harus menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang mampu bersaing secara internasional. Dalam mengaktualkan kedua filosofi tersebut, empat pilar pendidikan, yaitu: learning to know, learning to do, learning to live together, and learning to be merupakan patokan berharga bagi penyelarasan praktek-praktek penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, mulai dari kurikulum, guru, proses belajar mengajar, sarana dan prasarana, hingga sampai penilainya (Ibid., hal. 37-38).

II.    Pembahasan
Ada tiga cara dasar bagaimana siswa dapat berinteraksi satu sama lain, yaitu kompetitif, individualistis, dan kooperatif. Siswa dapat berkompetisi untuk melihat siapa yang terbaik, mereka dapat bekerja individualistis untuk mencapai tujuan tanpa memberi perhatian kepada siswa lain, atau mereka dapat bekerja sama dan saling memberi perhatian.
Keadaan motivasi belajar terkait erat dengan struktur pembelajaran yang digunakan guru di kelas. Struktur pembelajaran yang dikenal adalah struktur kompetitif, struktur individual, dan struktur kooperatif (Ames, 1984). Guru harus dapat mengambil bagian-bagian yang baik dari setiap struktur pembelajaran guna meningkatkan motivasi belajar siswa.
Ketiga struktur pembelajaran di atas secara singkat dijelaskan oleh Mudjiman (2005) sebagai berikut:
1.    Struktur kompetitif
Struktur pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan formal-tradisional adalah struktur kompetitif. Sistem penilaian yang digunakan dalam struktur ini mendorong siswa untuk berkompetisi dengan kawan-kawannya. Kemampuan mereka diukur dengan nilai dan rank. Orientasi siswa adalah “menang atau kalah”. Belajar yang berhasil adalah kalau dapat mengalahkan kawannya sehingga terjadi persaingan dengan segala akibat baik dan buruknya.
Dalam struktur pembelajaran kompetitif, motivasi belajar bersifat egoistic, karena kompetisi dalam konteks sistem tradisional menumbuhkan sikap self defense. Namun demikian struktur pembelajaran kompetutif motivasi belajar juga bersifat social comparative. Tujuan belajar tidak semata-mata untuk menguasai sesuatu kompetensi melainkan untuk menunjukkan kepada siswa lain bahwa ia lebih baik. Ini merupakan salah satu ciri motivasi instrinsik.
Selama pembelajaran yang berstruktur kompetitif, siswa bergantung secara negatif kepada yang lain. Ketergantungan negatif terjadi ketika keberhasilan seorang siswa atau kelompok siswa terkait erat dengan ketidakberhasilan siswa atau sekelompok siswa lain. Seorang siwa dapat melakukan yang terbaik ketika siswa yang lain tidak bisa menjadi yang terbaik.
Beberapa hal positif biasanya dipercayai guru dalam penggunaan tujuan tersebut. Asumsi utamanya menunjuk pada kepercayaan bahwa makhluk hidup termasuk manusia memang memiliki kecenderungan bawaan untuk berkompetisi. Dan karenanya, harus belajar berkompetisi agar bisa sukses dalam dunia yang semakin kompetitif ini. Beberapa ahli umumnya menghubungkan kompetisi dengan hasil-hasil seperti berikut:
a.    Pengembangan karakter,
b.    Peningkatan self-esteem dan self-confidence,
c.    Motivasi untuk sukses,
d.    Pemantapan keunggulan sebagai tujuan,
e.    Mempertahankan minat keikutsertaan,
f.    Rasa keberhasilan pribadi setelah mengalahkan orang lain.
Cara berpikir alternatif tentang kompetisi dan pengaruhnya pada pembelajaran timbul ketika asumsi dan hasil yang berbeda mulai diperhatikan oleh kita. Cukup menarik untuk menemukan bahwa kebanyakan interaksi harian dalam hidup lebih bersifat kooperatif, tidak kompetitif. Buktinya kita lebih sering bergantung pada peranan orang di luar diri kita.
Di samping itu, kompetisi dengan sifat sangat bergantungnya pada standar (misalnya peraturan atau peralatan), justru menghasilkan situasi yang kurang diharapkan pada banyak siswa, sebab mereka tidaklah bersifat standar. Tetapi, mereka lebih bersifat heterogen dalam berbagai hal: kemampuan, minat, pengalaman, dan kematangan. Dengan kata lain, perbedaan individual siswa tidak sejalan dengan persyaratan yang dibutuhkan untuk kompetisi.
Akibatnya, kompetisi dapat menjadi sebuah pengalaman yang menghambat pembelajaran bagi banyak siswa. Apalagi, karena tingginya tingkat kegagalan yang ditemui dalam kompetisi, hanya mereka yang mempunyai kesempatan untuk berhasil sajalah yang termotivasi. Karenanya kompetisi hanya tepat bagi sekelompok siswa terpilih dalam satu kelas yang menunjukkan tingkat keterampilan dan kemampuan yang sama serta memilih untuk membandingkan penampilannya dengan orang lain. Beberapa ahli justru menunjukkan bahwa aktivitas kompetitif membatasi kesempatan belajar siswa.
Seperti juga dilansir oleh beberapa pengamatan, keikutsertaan dalam aktivitas kompetisi tradisional tidak memberikan kesempatan pada semua siswa untuk berlatih, menguasai, dan memperhalus keterampilan yang diperlukan dalam partisipasi mereka. Menggunakan aktivitas kompetitif di kelas dapat menjadi penghalang pada pembelajaran siswa.

2.    Struktur individual
Pembelajaran dengan struktur individual banyak dijalankan dalam sistem pendidikan nonformal atau dalam pendidikan formal-tradisional tetapi ada penugasan-penugasan individual sesuai minat masing-masing. Dalam struktur pembelajaran individual, siswa berorientasi kepada pencapaian kompetensi. Bila masih terjadi kompetensi, yang terjadi adalah kompetisi dengan diri sendiri, bukan dengan kawan-kawannya, suasanya bebas dari rasa tertekan. Umunya siswa percaya bahwa kerasnya usaha-lah yang menentukan keberhasilan belajar, bukan semata-mata kemampuan. Dalam struktur pembalajaran ini motivasi belajar siswa beroientasi ke penguasaan sesuatu kompetensi. Sifat motivasinya instrinsik.
Pada saat pembelajaran individual, siswa biasanya tidak saling berhubungan dan tidak saling menggantungkan diri dengan siswa lain. Ketidakbergantungan tersebut didefinisikan sebagai tidak adanya hubungan kerja antara individu selama berusaha mencapai tujuan pembelajarannya. Selama pembelajaran individual, pencapaian tujuan dari seorang siswa tidak mempengaruhi pencapaian tujuan dari siswa yang lain. Demikian juga sebaliknya, tidak adanya usaha pencapaian tujuan dari seorang siswa tidak juga mempengaruhi ada atau tidak adanya usaha dari siswa lain.
Keyakinan bahwa usaha dan produktivitas hasil dari pembelajaran individual merupakan hal yang baik sudah diterima secara umum. Hasil-hasil seperti di bawah ini umumnya diyakini sebagai kelebihan dari pembelajaran individual:
a.    Pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa,
b.    Memerlukan keterlibatan dari guru yang minimal,
c.    Pembelajaran individual meningkatkan pencapaian tujuan,
d.    Semua siswa mengalami keberhasilan,
e.    Pembelajaran individual menghilangkan persoalan sosial,
f.    Identitas dan karakter pribadi berkembang melalui kerja mandiri,
g.    Pembelajaran individual meningkatkan disiplin pribadi,
h.    Pembelajaran individual menghilangkan masalah kedisiplinan kelompok.
Namun demikian, banyak juga para ahli yang meragukan bahwa pembelajaran individual benar-benar efektif mengembangkan sifat-sifat di atas. Dari pengamatan, lebih banyak hal kontradiktif dari hasil di atas yang dapat ditemukan.
Pembelajaran individual, meskipun dipandang tepat untuk situasi tertentu, namun biasanya tidak berhasil mencapai hasil-hasil di atas bagi umumnya siswa. Pembelajaran individual tidak mendukung interaksi interpersonal yang positif di antara siswa karena siswa tidak diharuskan untuk berinteraksi. Diragukan juga bahwa pembelajaran individual dapat mengeliminir masalah sosial ketika siswa dipisahkan dari kegiatan temannya, karena saling ejek, pelabelan stereotipe, dan kecurigaan antar siswa tetap dapat berkembang.

3.    Struktur kooperatif
Smith dan MacGregor (1992) mendefinisikan cooperative learning sebagai “the most carefully structured end of the collaborative learning contiunumm”. Johnson dan Holubec (1994) mendefinisikan cooperative learning sebagai “the instructional use of smaal groups so that students work together to maximize their own and each other’s learning” (Phipps et.al., 2001).
Struktur pembelajaran ini dapat dilaksanakan di kelas-kelas tradisional dalam bentuk kerja kelompok, atau dikelas-kelas pendidikan non-formal. Sikap kompetitif masih ada pada setiap kelompok, tetapi orientasi belajar utamanya adalah pencapaian suatu kompetensi atau pemecahan masalah.
Berbagai riset tentang cooperative learning menunjukkan hasil yang konsisten bahwa cooperative learning akan meningkatkan prestasi, hubungan interpersonal yang lebih positif dan self-esteem yang lebih tinggi dibandingkan dengan upaya kompetitif atau individualistis (Phipps et.al., 2001). Phipps et.al. mencatat keberhasilan metode ini antara lain dari hasil riset Felder dan Brent (1996) yang menyatakan bahwa pendekatan ini meningkatkan motivasi untuk belajar, memori pengetahuan, kedalaman pemahaman, dan apresiasi subyek yang diajar. Riset juga menunjukkan bahwa praktik cooperative learning mengarahkan siswa pada pencapaian prestasi yang lebih tinggi, lebih efisien, dan efektifnya proses dan pertukaran informasi, meningkatkan produktivitas, hubungan yang positif di antara mahasiswa, dan membentuk saling percaya antarteman, dibandingkan dengan pengalaman pembelajaran kompetitif dan/atau individualistis (Potthast, 1999).
Upaya kooperatif diharapkan menjadi lebih produktif dibanding upaya kompetitif ataupun individualistis, bila upaya kooperatif tersebut berada di dalam kondisi tertentu. Kondisi ini kemudian merupakan elemen dasar terbentuknya cooperative learning. Kelima elemen dasar cooperative learning mencakup perlunya interdependensi positif, adanya interaksi tatap muka (face-to-face interaction), dimilikinya individual accountability, digunakannya collaborative skills, dan adanya group processing. Kempat hal tersebut diuraiakan sebagai berikut:
a.    Pembentukan regu
Untuk menambah manfaat dari pembelajaran kooperatif, tugas pembentukan regu harus dilakukan secara hati-hati. Kelompok atau regu bersifat heterogen baik dalam hal jenis kelamin, ras, status ekonomi, dan kemampuan. Peningkatan dalam keterampilan berpikir, frekuensi dalam memberi dan menerima bantuan, serta jarak yang lebih lebar dalam hal sudut pandang terjadi jika kelompok yang dibentuk bersifat campuran.
Ketika memulai menggunakan pembelajaran kooperatif, mulailah dengan regu berpasangan. Pasangan memungkinkan partisipasi maksimum, komunikasi yang meningkat, dan memberi kesempatan untuk melatih keterampilan kolaboratif yang diperlukan. Pengelompokan pasangan secara mudah dirubah menjadi kelompok lebih besar, empat atau enam orang, sehingga meminimalkan pengaturan waktu. Siswa dapat ditugaskan pada kelompok kooperatif oleh guru atau kelompok dapat dikelompokkan secara acak. Kelompok yang dipilih guru biasanya menghasilkan pengelompokan yang efektif dan memerlukan sedikit waktu untuk mengaturnya. Sedangkan metode untuk mengelompokkan siswa secara acak adalah dengan meminta siswa untuk berkelompok berdasarkan ketentuan yang berubah-ubah dari guru. Misalnya, berkelompoklah dengan teman yang belum pernah jadi kelompok, dsb.
b.    Saling ketergantungan positif
Inti dari pembelajaran kooperatif adalah saling ketergantungan positif. Hal ini terjadi ketika aktivitas pembelajaran mengharuskan pencapaian tujuan dari seorang siswa dihubungkan dengan pencapaian tujuan dari siswa lain. Pencapaian tujuan dalam pembelajaran kooperatif bersifat inklusif yang saling menguntungkan, yaitu usaha bersama.
Oleh karena itu guru dapat merancang aktivitas yang harus dilaksanakan bersama, baik bersamaan dalam hal waktu maupun bergantian, dan hasilnya-pun dinilai dari hasil kelompok. Saling ketergantungan positif berlangsung melalui penstrukturan tugas dan penghargaannya. Struktur tugas menentukan bagaimana siswa bekerja bersama selama pembelajaran kooperatif. Tugas-tugas dapat dibangun dalam beberapa cara untuk menghasilkan saling ketergantungan positif, sebagai berikut:
1)    Kelompok kecil menghasilkan produk tunggal.
Contoh: kelas dibagi ke dalam beberapa kelompok yang beranggotakan empat orang. Setiap grup menciptakan satu kreasi yang didasarkan pada satu tema, kemudian berbagi andil tema mereka kepada kelompok lain.
2)    Tugas dibagi dalam regu belajar siswa.
Contoh: dalam kelompok yang beranggotakan empat siswa, setiap siswa mendapat tugas tertentu.
3)    Setiap siswa melakukan tugas tertentu sebelum kelompok itu melakukan tugas berikut.
4)    Siswa berkolaborasi mencapai tujuan regu.
Saling ketergantungan positif pada dasarnya mencyaratkan empat kondisi seperti berikut:
1)    Interaksi verbal positif berhadapan muka (face to face)
2)    Interaksi fisik positif jika dipandang tepat
3)    Sumbangan maksimum dari anggota regu
4)    Keberhasilan dari masing-masing anggota regu berhubungan dengan keberhasilan anggota regu yang lain
Pilihlah kegiatan yang memungkinkan siswa bekerja bersama saling berdekatan, saling memberikan dukungan, serta memungkinkan terjadinya keikutsertaan penuh secara aktif  melakukan tugas kelompok. Seorang siswa tidak dapat berhasil sendirian; saling ketergantungan harus cukup kuat.
c.    Akuntabilitas perorangan
Akuntabilitas atau tanggung jawab merupakan faktor penting dalam situasi pembelajaran dan pengajaran. Dalam pembelajaran kooperatif hal itu lebih esensial karena pembelajaran siswa menjadi hasil yang paling iharapkan dari keikutsertaannya dalam pembelajaran kooperatif. Di bawah ini adalah tiga cara atau strategi yang dapat digunakan untuk memegang akuntabilitas individual siswa baik dalam proses pembelajaran maupun dalam hal membantu orang lain.
1)    Guru bertanya secara acak meminta penjelasan siswa.
Contoh: ketika sekelompok siswa sedang terlibat dalam perancangan suatu tugas, guru dapat menanyakan pada satu orang siswa tentang mengapa mereka memiliki alat/metode tertentu serta keterampilan/penyelesaian apa yang akan dilakukan dengan alat/metode tersebut. Bahkan guru pun dapat meminta seorang siswa menunjukkan atau mendemonstrasikan keterampilan/penyelesaian yang akan dilakukan.
2)    Siswa berbagi gagasan dan strategi pada kelompok lain.
Contoh: setelah seluruh kelas dibagi dan masing-masing kelompok melakukan tugas yang diminta (tentu setiap regu punya tugas yang berbeda), setiap regu diwajibkan untuk mengajarkan cara melakukan tugas tersebut pada regu lainnya. Setiap siswa dapat bertanggung jawab untuk mengajarkan komponen khusus dari tugas yang dimaksud.
3)    Guru mengatur kegiatan untuk memastikan bahwa semua siswa dibutuhkan.
Ini berkaitan dengan bagaimana guru mengatur tugas dan menyampaikannya pada siswa. Guru harus memastikan bahwa semua siswa terlibat dalam kegiatan, jangan sampai ada saat menunggu yang terlalu lama sampai seorang siswa melakukan tugasnya. Hal inipun tentu berhubungan juga dengan alat yang bisa digunakan, jangan sampai satu regu atau beberapa orang siswa menunggu giliran karena jumlah alatnya tidak mencukupi.
Jika guru berfikir secara hati-hati tentang pembentukan regu, merencanakan saling ketergantungan positif, dan memastikan bahwa semua siswa terkontrol tanggung jawabnya, maka pembelajaran kooperatif akan berlangsung efektif.
d.    Keterampilan kolaboratif.
Keterampilan berkolaborasi yang diperlukan dalam pembelajaran kooperatif meliputi:
1)    Mendengarkan pendapat orang lain
2)    Memecahkan konflik
3)    Mendukung dan mendorong orang lain
4)    Menunggu dan melaksanakan giliran
5)    Mengekspresikan kegembiraan atas keberhasilan orang lain
6)    Menunjukkan kemampuan untuk mengkritisi gagasan bukan orang yang melontarkannya.
Pengajaran harus memasukkan pernyataan verbal yang jelas, pemodelan yang tepat, serta memeriksa pemahaman melalui pertanyaan dan meminta siswa menunjukkan contoh. Disamping itu, gurupun harus menggunakan dan mendorong tumbuhnya kosa kata kooperatif di dalam pembelajaran, misalnya dengan sering mengungkap, “Kami perlu bantuanmu”, atau “Terima kasih atas bantuanmu”.

III.    Penutup
Untuk memaksimalkan pembelajaran, guru harus menetapkan struktur tujuan yang mana yang akan digunakan untuk menghasilkan pencapaian tujuan bagi sebanyak mungkin siswa. Struktur tujuan adalah cara siswa berinteraksi secara verbal maupun secara fisik dengan teman sendiri atau dengan guru ketika terlibat dalam pembelajaran.
Struktur kooperatif lebih tepat dilaksanakan di sekolah bertaraf internasional. Apabila keempat bahan dasar dari pembelajaran kooperatif diterapkan melalui strategi khusus yang tepat, interaksi siswa selama pembelajaran akan dapat secara efektif diatur dan siswa akan memperoleh kemampuan dalam hal fisik dan keterampilan yang berpengaruh pada keberhasilan mereka dalam mencapai apa yang disebut standar kompetensi lintas kurikulum.

IV.    Daftar Pustaka
Haryana, Kir. 2007. Konsep Sekolah Bertaraf Internasional (artikel). Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.
Ibid., hal. 37-38
Mudjiman, Hari. 2005. Belajar Mandiri (Self-Motivated Learning). In-Press. Surakarta: UNS.
Mutmainah, Siti. 2007. Pengaruh Penerapan Metoda Pembelajaran Kooperatif Berbasis Kasus yang Berpusat pada Mahasiswa Terhadap Efektivitas Pembelajaran Akuntansi Keperilakuan. Jurnal. Diakses di http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/11308264285.pdf pada 25 Desember 2011.
Phipps, Maurice et al. 2001. University Students’ Perception of Cooperative Learning: Implications for Administrators and Instructor. The Journal of Experiential Education. Spring, Vol. 24 No.1, p.14-21.
Potthast, Margaret J., 1999. Outcomes of Using Small-Group Cooperative Learning Experiences in Introductory Statistics Coures. College Student Journal. March Vol. 22, Isuue 1.
Smith, B. L., and MacGregor, J. T. (1992). "What is collaborative learning?" In Goodsell, A. S., Maher, M. R., and Tinto, V., Eds. (1992), Collaborative Learning: A Sourcebook for Higher Education. National Center on Postsecondary Teaching, Learning, & Assessment, Syracuse University.
http://dikdas.kemdiknas.go.id/docs/dok_34.pdf

Tidak ada komentar: